Menerima Honor Padahal Tidak Bekerja

Menerima Honor Padahal Tidak Bekerja

113
0
SHARE

Abu Farhan

Pertanyaan:

Assalamualaikum Wr. Wb. saya seorang PNS ada dua masalah yang hendak saya tanyakan 1. Baru-baru ini saya mendapat perintah dari atasan saya untuk jalan-jalan (wisata) tapi tidak ada surat tugas, dengan biaya dari perusahaan yang kami bina dan kemudian saya juga dikasih uang jalan. Apakah hal tersebut dibolehkan ustad? dan kalau tidak boleh apa yang harus saya lakukan dengan uang tersebut karena sudah saya terima. Adapun tujuan jalan-jalan tersebut agar bisa segar dalam bekerja dan juga telah terjalin hubungan baik dengan perusahaan tersebut. 2. Apakah saya diperbolehkan menerima honor padahal saya tidak pernah dilibatkan dalam pekerjaan? Pekerjaan ini berdasarkan surat keputusan dan nama saya ada dalam surat tersebut, adapun alasan tidak dilibatkan saya karena pekerjaan tersebut dapat dilakukan hanya oleh orang-orang tertentu sedangkan surat keputusan tersebut mengharuskan jumlah minimal orang yang harus ikut. Dan hal tersebut memang sudah biasa terjadi ditempat saya tujuannya agar terjadi pemerataan pendapatan. Kalau jawabannya tidak boleh Apa yang harus saya lakukan dengan uang tersebut karena saya sudah menerima uang tersebut Terima kasih atas jawabannya. Saya mohon agar jawabannya dapat diberikan secepatnya. wassalam.

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb. Perusahan binaan instansi anda tentu saja harus menganggarkan dana khusus untuk ‘menjamu’ dan ‘menservice’ Anda dan teman teman Anda jalan-jalan. Dan dana sebesar itu tidak akan dianggarkan begitu saja kalau tidak ada kepentingan yang jelas dan target yang dituju. Perusahaan itu barangkali tidak pernah berterus terang kepada Anda tentang harapan mereka setelah memberikan uang itu. Tapi melihat situasi dan kondisi yang penuh dengan nilai-nilai kolusi antara pejabat dan pengusaha, biasanya uang-uang seperti tidak lain untuk melicinkan urusan dan proses uasaha mereka yang membutuhkan `bantuan` dari instansi Anda.

Disini masalahnya mulai berkembang. Apakah dengan memberi dana itu, akan ada hal-hal yang nantinya melanggar prosedur resmi? Atau ada jenis kewajiban tertentu yang akan ditinggalkan? Atau ada monopoli pada jenis usaha tertentu? Dan lain-lain bentuk yang intinya adalah pelanggaran. Dan tokoh kuncinya adalah Anda atau instansi Anda. Karena itu untuk melicinkan jalan. Sebuah perusahaan akan sangat siap menganggarkan biaya pelicin dengan berkedok uang jalan-jalan dan sebagainya. Modus-modus seperti terlalu mudah untuk dibaca di zaman yang cukup curang ini. Dan bila yang tersebut itu benar, maka Anda sedang berada pada posisi orang yang disogok.

Rasulullah SAW bersabda,”Ar-Raasyi wal Murtasyi fin-naar” artinya: orang yang menyogok dengan yang disogok sama-sama tempatnya di dalam neraka. Jadi sebelum Anda menyatakan setuju menerima uang tersebut, perla Anda tanyakan secara detail dan rinci tentang ‘judul’ uang itu untuk apa? Adakah indikasi ke arah jenis penyogokan yang akan melahirkan tindakan pelanggaran aturan dan seterusnya? Bila memang ada indikasi ke arah sana, maka mintalah fatwa kepada hati nurani Anda. “Istafti qalbaka”. Karena nurani Anda akan sangat jujur sekali dalam menjawab masalah ini. Tetapi bila uang itu sama sekali tidak mengindikasikan apa-apa selain ungkapan terima kasih, maka pada dasarnya boleh diterima. Tapi syarat bahwa tidak ada dampak apa-apa terhadap kebijakan kepada perusahaan itu harus betul-betul terjamin dan pasti.

Wallahu a`lam bis-shawab. Wassalamu `alaikum Wr. Wb.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY