Undian Who Wants To Be Millioner

Undian Who Wants To Be Millioner

103
0
SHARE

Arif

Bagaimana Ustadz hukumnya undian Who wants to be millioare? Dengar2 di Egypt, undian seperti itu sudah dilarang oleh ulama?

Jawaban:

Assalamu`alaikum Wr. Wb. Bismillahirrahmanirrahiem. Alhamdulillahi Rabbil `Alamin. Wash-shalatu Was-Salamu `alaa Sayyidil Mursalin. Wa ba`d, Dalam kuis semamcam itu memang ada beberapa hal yang nyaris berhimpitan dengan praktek perjudian. Kecuali bila lebih dicermati lebih dalam lagi, ada hal-hal yang ternyata meski mirip dengan judi tapi tidak identik 100 %. Mengapa demikian? Umumnya dalam suatu perjudian, seseorang datang dengan membawa modal yang dipertaruhkan. Bila dia memenangkan permainan itu, maka modal lawan atau bandar akan digondolnya. Dan bila kalah dalam permainan itu, maka modalnya akan hilang. Namun dalam permainan ini, peserta tidak membawa modal yang dipertaruhkan. Karena uang hadiah itu didapat dari sponsor penyelenggara acara ini. Tapi bila uang hadiah diambil dari para peserta, maka jelaslah titik judinya. Peserta layaknya seorang yang menebak sebuah kuis. Bila bisa menebak dengan tepat, maka dia berhak atas hadiah dan bila salah, maka tidak mendapatkan apa-apa.

Adapun jenjang pertanyaan yang seolah-olah menjebak dan beresiko kehilangan uang hadiah yang tadi sudah menjadi haknya, bisa dijelaskan sbb : Ketika seorang menebak soal pertama dengan benar, dia berhak mendapat uang misalnya Rp 1 juta. Tapi uang ini belum akan diserahkan selama dia belum menyatakan berhenti dari permainan itu. Sehingga kepemilikannya atas uang itu masih ‘mu`allaq’ (menggantung). Artinya meski dia berhak tapi belum dimiliki sepenuhnya. Ini bisa ketahuan misalnya bila saat itu dia harus membayar sesuatu, dia tidak bisa membayarnya dengan uang hadiah itu, karena permainan belum berakhir. Uang itu barulah menjadi miliknya secara syah bila saat itu dia menyatakan berhenti dari permainan itu. Tapi bila ingin melanjutkan ke pertanyaan kedua, kedudukan uang itu masih menggantung. Karena bila jawabannya benar hadiahnya misalnya menjadi Rp 5 juta. Dan bila jawabannya salah, maka hadiahnya tinggal 200 ribu saja.

Kesepakatan ini sudah dijelaskan sejak awal permainan, sehingga tidak ada unsur jahalah dan gharar. Ini akan berbeda hukumnya bila uang itu diserahkan terlebih dahulu kepadanya hingga dia memang sudah memiliki uang itu sepenuhnya. Lalu dengan bermodalkan uang Rp 1 juta itu, dia bertaruh untuk bisa menebak soal berikutnya. Ini sudah jelas unsur judinya. Memang ada fatwa dari para ulama di Timur Tengah yang mengharamkan praktek seperti ini karena ketipisan batasannya antara judi dan bukan judi. Sehingga memang masalah ini tetap menjadi titik perbedaan pendapat.

Wallahu a`lam bis-Shawab. Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY