Memakai Semester Card Orang Lain

Memakai Semester Card Orang Lain

111
0
SHARE

Riquel

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Ustadz yang dirahmati Allah SWT, saya ada pertanyaan, saya mahasiswa di Jerman, 22 tahun. Di Jerman pada umumnya, para mahasiswa mendapatkan Semesterticket (Semester Card) untuk menggunakan fasilitas kendaraan umum (Bus, Tram, Kereta) gratis selama satu semester setelah membayar iuran semester. Pertanyaan saya, saya kadang meminjamkan semester card saya kepada teman-teman lain yang kebetulan tidak mempunyai semester card, karena harga tiket cukup mahal. Hal ini pernah juga saya tanyakan kepada orang yang saya anggap mengerti Islam, dan beliau membolehkan hal tersebut, karena kita diibaratkan telah membeli itu, dan bebas memakainya kapan saja, dan tentu saja boleh dipakai siapa saja. Tapi yang membuat saya janggal, di semester card itu tertera nama saya, sedangkan orang lain yang memakai itu jelas bukan saya. Bagaimana hukumnya hal itu pak ustadz? untuk pak ustadz ketahui, bahwa hal itu dilarang/bisa didenda oleh pihak yang bewenang kalau ketahuan.

Jawaban

Assalamu `alaikum Wr. Wb. Rasulullah SAW menyebutkan dalam sabdanya bahwa seorang muslim itu harus memegang teguh syarat yang sudah dipegangnya. Dan melanggar syarat kesepakatan yang sudah dibuatnya termasuk bagian dari khianat/tidak amanah atas apa yang telah disepakati sebelumnya. Dari `Amru bin `Auf Al-Muzani ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Orang-orang muslimi itu terikat pada syarat (kesepakatan) yang dibuatnya, kecuali kesepakatan yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram”. (HR. Tirimizy) Dalam kaitan dengan semester card yang Anda tanyakan itu, memang benar bahwa Anda sudah membayar harga untuk naik bus itu secara borongan. Tapi seperti yang Anda katakan juga bahwa sebenarnya yang berhak untuk naik bus dengan memakai card itu hanyalah si pemilik syah kartu itu saja. Dan untuk itu pada card tersebut terdapat nama si pemilik, dimana bila KETAHUAN bukan miliknya, maka akan didenda.

Jadi ini menunjukkan bahwa kesepakatannya adalah yang boleh menggunakan card itu hanya Anda dan bukan orang lain. Meski Anda sudah bayar tapi transaksi pembayaran itu untuk Anda sendiri dan bukan untuk orang lain. Dan peraturannya sudah jelas bahwa card itu tidak untuk dipinjamkan kepada orang lain untuk naik bus. Kalau kita mau jujur dengan syarat kesepakatan itu, maka sebenarnya Anda dan teman Anda itu sudah melanggar kesepakatan. Dalam hal ini sebagai seorang muslim tentu Anda dituntut untuk berlaku jujur dan memegang teguh peraturan serta syarat dalam sebuah akad jual beli. Ini ciri khas seorang muslim yang dimana-mana tidak akan melanggar kesepakatan selama dia setuju dengan hal itu. Allah SWT berfirman : “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, hari manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.” (QS. Al-Muthaffifin :1-7).

Memang sebenarnya tingkat larangannya tidak sampai pada mutlak keharaman, karena sebenarnya ketika Anda meminjamkan card itu kepada teman Anda, Anda sebenarnya sudah membayarkannya. Jadi tidak sampai mengambil hak orang lain. Hanya saja masalahnya karena ada ketentuan bahwa yang boleh menggunakan hanya yang namanya tertera pada kartu itu. Jadi untuk keluar dari masalah ini dengan selamat dari syubhat seperti ini, lebih baik teman Anda itu juga membeli card seperti Anda agar tidak harus bayar mahal.

Wallahu a`lam bis-shawab. Wassalamu `alaikum Wr. Wb.

<

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY