Mengembangkan Ekonomi Islam Berbasis Epistemologi dan Metodologi

Mengembangkan Ekonomi Islam Berbasis Epistemologi dan Metodologi

530
0
SHARE

Oleh: Iman Santoso, Lc, MA.

Pendahuluan

Islam merupakan agama yang benar, lengkap dan sempurna. Agama terakhir penyempurna agama-agama yang dibawa para nabi dan rasul sebelumnya. Sehingga Islam menjadi landasan yang paling kuat dalam proses pembentukan ilmu.  Al-Qur’an  dan Sunnah sebagai rujukan utama agama Islam banyak membicarakan tentang ilmu, pentingnya menuntut ilmu  dan  keutamaan serta derajat orang yang berilmu. Bahkan para ulama Islam, sesuai dalil Al-Qur’an dan Sunnah telah menetapkan bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib.

 

Para sahabat  ra. hampir semuanya adalah orang-orang  yang berilmu, mereka menuntut ilmu dari Rasulullah saw. sedangkan Al-Qur’an adalah sumber ilmu yang didapat Rasul saw dari Allah Yang Maha ‘Alim melalui malaikat Jibril. Bahkan Rasul saw. seolah telah melakukan klasifikasi ilmu dan memberikan spesifikasi keahlian pada para sahabatnya. Beliau menyebutkan  bahwa beliau adalah madinah ilmu dan Ali adalah pintunya[1], Muadz bin Jabal ra. paling ahli tentang ilmu halal dan haram, Zaid bin Haritsah ra. paling ahli dalam warits, Abu Hurairah ra. paling ahli dan paling banyak dalam meriwayatkan hadits, Abdullah bin Abbas ra. paling ahli dalam Tafsir, Abdullah bin Mas’ud  ra. paling ahli dalam masalah tilawah dan ulumul-Qur’an dll.

Perkembangan ilmu dari generasi berikutnya,  semakin menguat, cabang dan disiplinnya  semakin banyak. Maka disebutlah bahwa imam Abu Hanifah sebagai peletak ilmu Fiqih,  imam As-Syafi’i sebagai peletak ilmu usul Fiqih, Sibawaih sebagai peletak ilmu Bahasa.  Dan demikian seterusnya macam-macam ilmu semakin banyak, hal ini sesuai dengan keluasan Al-Qur’an dan Sunnah dan perkembangan permasalahan manusia itu sendiri. Para ulama Islam tersebut membukukan ilmu-ilmunya secara luas, lengkap dan menyeluruh. Dalam bidang Fiqih Islam dikenal dengan para imam empat madzhab, yaitu imam Abu Hanifah, imam Malik, imam As-Syafi’I dan imam Ahmad bin Hambal. Dalam hadits  dikenal imam hadits seperti Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’I, Ibnu Majah dll, dalam tafsir seperti Ibnu Jarir At-Thabari, Al-Qurthubi, Ibnu Katsir dll. Dalam siroh dan sejarah ada Ibnu Hisyam, Ibnu Jarir dll. Dalam usul Fiqh, Bahasa dan ilmu lainnya, masing-masing ada ulama yang menguasai disiplin ilmu tersebut.

Dalam perkembangan selanjutnya para ulama berinteraksi dengan dunia luar, terutama barat dan timur, maka bermunculan disiplin ‘ilmu-ilmu baru’, salah satunya adalah ilmu ekonomi Islam. Ilmu Ekonomi Islam sejatinya  bukan ilmu baru, karena  sumbernya adalah agama Islam itu sendiri, yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Namun karena kemunduran umat Islam, kemudian peradaban diambil alih oleh barat, maka secara disiplin ilmu yang muncul dan berkembang lebih dahulu justru ilmu ekonomi konvensional yang berbasis beradaban Barat.

Sesungguhnya dasar-dasar dari ekonomi sudah disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, kemudian produk ulama Islam di bidang ekonomi, walaupun secara parsial juga sudah banyak. Tidak dipungkiri bahwa kemunculan ekonomi Islam dengan disiplin yang lebih lengkap, salah satunya termotivasi oleh ekonomi konvensional, secara lebih tepat kegagalan ekonomi konvensional dalam memberikan kesejahteraan pada masyarakat. Kemudian para ulama Islam modern yang ahli dibidangnya menggagas disiplin ilmu baru, yaitu ilmu ekonomi Islam.

Dan tidak dinafikan juga bahwa  terjadi  proses islamisasi sebagian ilmu ekonomi konvensinal, sehingga semakin menambah lengkap ilmu ekonomi Islam, sebagai disiplin ilmu ekonomi yang berdasarkan agama Islam yang mengacu ayat qauliyah dan studi empirik  yang  mengacu ayat kauniyah. Hal lain yang lebih menguatkan munculnya ekonomi Islam adalah  kebutuhan dasar umat Islam terhadap ekonomi yang bebas dari segala yang diharamkan dalam Islam, seperti riba, gharar dan maisir. Maka para ulama bekerja keras untuk memunculkan disiplin baru dalam ekonomi, yaitu ekonomi Islam.

Pembahasan Masalah

Sesungguhnya ekonomi Islam sudah berkembang sedemikian luas, namun apakah sudah sesuai dengan epistemologi dan metodologi Islam atau belum ? Oleh karena itu  menjadi sangat penting untuk menulis ulang atau melihat ulang ekonomi Islam dan perkembangannya berdasarkan epistemologi dan metodologi Islam.  Dalam makalah ini akan membahas beberapa hal yang mendasar tentang ekonomi, dengan rincian pembahasan sbb:

  1. Ekonomi Konvensional versus Ekonomi Islam
  2. Ekonomi Islam
  3. Ekonomi Islam dan Fiqih Muamalah
  4. Karakteristik  Sistem Ekonomi Islam
  5. Mengembangkan Ekonomi Islam berbasis Epistemologi dan Metodologi Islam
  6. Kesimpulan dan Penutup.

 

 

 

 

  1. Ekonomi Konvensional versus  Ekonomi Islam

Dari sisi filosofi sesungguhnya ekonomi konvensional dan ekonomi Islam  sudah memiliki perbedaan. Tujuan ekonomi konvensional adalah kepuasaan atau utilitas, sedangkan tujuan ekonomi Islam yaitu sejahtera (lahir dan batin).  Dan pada prakteknya bahwa ekonomi konvensional, tidak melahirkan kepuasaan atau kesejahteraan lahir, yang terjadi justru kesenjangan.  Kesenjangan ini dapat dibaca dari berbagai macam lembaga riset berikut:

  • Riset Anup Shah (2008) : 3 milyar manusia hidup dengan pendapatan di bawah 2 dolar AS/hari, 1 dari 2 anak hidup dalam kemiskinan, dan GDP 41 negara miskin sama dengan kekayaan 7 orang terkaya di dunia.
  • World of Work Report (2008), employment opportunity atau kesempatan kerja dalam kurun waktu 1990-2007 mengalami peningkatan sebesar 30%. Namun kontribusi buruh miskin terhadap PDB turun sebesar 13% (Amerika Latin dan Karibia), 10% (Asia Pasifik), dan 9% (negara maju)
  • Pendapatan CEO 15 perusahaan terbesar di AS tahun 2007, 500 kali lipat pendapatan pekerjanya, naik 360 kali lipat dibandingkan tahun 2003
  • Krisis keuangan global, siklus krisis dalam 20 tahun terakhir semakin meningkat
  • Krisis global belum berakhir,  Eropa dan AS terancam resesi berkepanjangan, instabilitas pasar keuangan dunia semakin meningkat dan defisit anggaran negara-negara maju

 

Melihat realitas yang memprihatinkan ini, maka muncullah gagasan dari para ulama Islam agar umat Islam kembali kepada sistem Fiqih Muamalah atau ekonomi Islam. Dan kondisi ini berkembang di negeri-negeri muslim.  Sesungguhnya perjalanan ekonomi Islam secara teori maupun praktek sudah berjalan lama seiring dengan perjalanan peradaban Islam.  Dan peradaban Islam berawal dari diutusnya Muhammad bin Abdullah saw menjadi  Rasul dan Nabi terakhir sampai beradaban Islam itu sendiri jatuh ke tangan bangsa Barat. Sehingga peradaban Islam berjalan dari abad 7 sampai 20 Masehi, kurang lebih 13 abad.  Dan pada waktu tersebut ekonomi Islam tumbuh dan berkembang pesat. Ekonomi keadilan bebas riba, gharar, maisir dan zhulm. Landasan ekonomi pada masa peradaban Islam adalah Al-Qur’an dan Hadits. Kemudian para ulama mengembangkan ilmu ekonomi dengan tema besar tentang buyu’ (perdagangan) atau Fiqih Mumalah.

Dalam Fiqih Muamalah ini membahas segala macam yang terkait dengan ekonomi sektor riel secara rinci seperti aqad buyu’ itu sendiri, ijaroh (sewa), syarikah (perseroan), rahn (pegadaian), salam (future commodity), mudhorobah (bagi hasil), murobahah ( bisnis dengan keuntungan diketahui) dll[2]. Bahkan ekonomi Islam telah membahas tema-tema tentang kebijakan fiskal  sebagaimana yang disebutkan dalam kita Al-Kharaj karya Abu Yusuf dan Al-Amwal karya Abu Ubaid

Seiring dengan melemahnya umat Islam dan kemudian kalah dalam peperangan, maka kemudian peradaban beralih ke barat. Tepatnya tahun 1924, yaitu tahun jatuhnya khilafah Turki Utsmani menjadi  Negara republik sekuler. Semenjak itulah perdaban beralih ke barat, mulai dari  dipimpin Inggris kemudian sekarang Amerika Serikat. Sementara, Negara-negara Islam, termasuk Turki mengekor pada barat. Demikian pula dengan ekonomi, yang berkembang adalah ekonomi konvensional sesuai dengan peradaban barat yang sekuler.

Dan peradaban barat dengan sistem kapitalisnya belum berumur satu abad tapi sudah menunjukkan kelemahannya. Demikian juga sistem ekonomi kapitalis, tidak menghasilkan kesejahteraan, malah menimbulkan kesenjangan, sebagaimana fakta diatas. Hal ini juga terjadi di negeri muslim yang mengekor pada sistem ekonomi kapital, tidak terkecuali Indonesia.: Menurut Mudrajad Kuncoro, salah seorang profesor ekonomi dan guru besar di UGM  mengungkapkan data-data  yang menggambarkan  betapa rapuhnya sistem ekonomi kapitalis:

  • 40% kelompok termiskin masyarakat menikmati share pertumbuhan ekonomi sebesar 20,92% pada tahun 2000, dan turun menjadi 19,2% pada 2006
  • 20% kelompok terkaya masyarakat menikmati share pertumbuhan ekonomi sebesar 42,19% pada tahun 2000, kemudian naik menjadi 45,72% pada 2006 berarti kesenjangan semakin meningkat
  • Pertumbuhan kelompok super-kaya Indonesia (16 persen tahun 2007) adalah yang ketiga tertinggi di Asia Pasifik setelah China dan India, hal ini dapat disimpulkan bahwa ‘Pertumbuhan ekonomi lebih banyak dinikmati oleh kelompok menengah dan atas

Menurut riset KA Ishaq (2003), salah satu penyebab kegagalan pembangunan di negara-negara berkembang dewasa ini adalah akibat diabaikannya instrumen pembangunan yang sesuai dengan agama dan budaya lokal.

 

  1. Ekonomi Islam

Ekonomi Islam adalah solusi dari gagalnya ekonomi konvensional memberikan kesejahteraan bagi umat manusia. Sebagai disiplin ilmu dan sistem ekonomi, ekonomi Islam  sudah kokoh baik secara konsep maupun aplikasinya. Jika merujuk pada Islam, maka keberdaannya lebih tua dari sistem ekonomi konvensional. Namun demikian seiring dengan kemunduruan peradaban Islam, maka seluruh perangkat peradaban tersebut otomatis mengalami kemunduran juga. Dan insya Allah berbarengan dengan bangkitnya umat Islam, ekonomi Islam juga akan bangkit dan memberikan solusi. Untuk mengetahui lebih jelas tentang ekonomi Islam, maka kita melihat definisi Ekonomi Islam yang disampaikan oleh para ekonom muslim[3].

  1. Ekonomi Islam merupakan ilmu yang diturunkan dari ajaran Islam Al-Qur’an dan Sunnah. Sehingga segala pemikiran dan praktek ekonomi yang tidak bersumberkan dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka tidak disebut ekonomi Islam. Pendekatannya menggunakan Fiqih Islam. Sehingga mereka cenderung mengidentikan ekonomi Islam dengan Fiqih Muamalah. Beberapa ekonom muslim yang cenderung menggunakan definisi dan pendekatan ini adalah Hazanuzzaman (1984) dan Metawally (1995).
  2. Ekonomi Islam merupakan implementasi sistem etika Islam dalam kegiatan ekonomi yang ditujukan untuk mengembangkan moral masyarakat. Ekonomi Islam bukanlah sekedar memberikan justifikasi hukum terhadap fenomena ekonomi yang ada, namun lebih menekankan pentingnya spirit Islam dalam setiap aktivitas ekonomi. Beberapa ekonom yang menggunakan definisi dan pendekatan ini adalah Mannan (1993), Ahmad (1992) dan Khan (1994).
  3. Ekonomi Islam merupakan representasi prilaku ekonomi umat muslim untuk melaksanakan ajaran Islam secara menyeluruh. Hal ini berarti, ekonomi Islam merupakan penafsiran dan praktek ekonomi yang dilakukan oleh umat Islam yang tidak bebas dari kesalahan dan kelemahan. Analisisnya  dilakukan dalam tiga aspek, yaitu norma dan nilai-nilai dasar, batasan ekonomi dan status hukum, dan aplikasi dan analisis sejarah. Para ekonom yang menggunakan pendekatan ini adalah Siddiqie (1992) dan Naqvi (1994).
  4. Diantara para ekonom muslim mencoba mendefiniskan ekonomi Islam lebih komprehensif dengan menggabungkan definisi-definisi yang telah.  Beberapa ekonom muslim tersebut seperti Chapra (2000) dan Choudury. Berbagai pendekatan dapat digunakan untuk mewujudkan tujuan ekonomi Islam yaitu kesejahteraan. Kesejahteraan sebagaimana dijelaskan dalam Islam adalah falah yang bermakna kelangsungan hidup, kemandirian, dan kekuatan untuk hidup.

 

Maka dapat disimpulkan  bahwa  definisi ekonomi Islam adalah ilmu yang mempelajari usaha manusia untuk mengalokasikan dan mengelola sumber daya untuk mencapai falah berdasarkan pada prinsip-prinsip Al-Qur’an dan Sunnah.

 

  1. Ekonomi Islam dan Fiqih Muamalah

Banyak kalangan dari umat Islam, baik para ulama atau umat Islam secara umum yang mengidentikkan Ekonomi Islam dengan Fiqih Muamalah.  Pernyataan ini tidak salah, karena memang sebagian besar kajian pembahasan  tentang Ekonomi Islam adalah Fiqih Muamalah. Hal ini menunjukkan bahwa inti atau pokok yang paling penting dalam  Ekonomi Islam adalah Fiqih Muamalah. Sebagaimana ungkapan Rasulullah saw. bahwa “Haji adalah Arofah”. Maksudnya bahwa ibadah haji yang paling inti adalah wuquf di Arafah. Begitu juga dengan Ekonomi Islam, pokok utama dalam Ekonomi Islam adalah Fiqih Muamalah, walaupun tidak  sama atau identik 100%,  sebagaimana wuquf di Arafah bukan keseluruhan ibadah haji.

Dalam kitab-kitab Fiqih, mislanya kita mengambil kitab Fiqh yang sederhana yaitu Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq dan kitab Bulughul Maram, kitab haditsul Ahkam (kumpulan hadits tentang hukum) karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalany dengan syarahnya yaitu kitab Subulus Salam karya As-Shan’any. Dalam kitab Bulughul Maram tentang kitab Buyu’ ( bab besar yang membahas tentang jual beli, atau perdagangan atau bisnis). Disana memuat 22 bab[4]. Sedangkan dalam kitab Fiqih Sunnah membahas tentang Muamalah satu jilid tersendiri yaitu jilid ketiga dari kitab yang semuanya tiga jilid[5]. Suatu pembahasan yang sangat mencukupi untuk masalah ekonomi, termasuk ekonomi modern.

Dalam  ekonomi modern baik pada pembahasan sector riel maupun lembaga keuangan banyak mengadopsi dari Fiqih Muamalah.  Misalnya aqad tentang mudhorobah (bagi hasil), murobahah (jual beli dengan margin keuntungan sudah diketahui) syariakah (perseroan), ijaroh (sewa atau leasing), hiwalah ( pemindahan tanggungjawab atau LC) dan banyak lagi. Dan ada satu hal  yang sangat mendasar dalam Fiqih Muamalah yaitu pengharaman riba, yang sekarang menjadi sendi perekonomian modern.

Terkait dengan pengharaman riba dan bahayanya sesungguhnya sudah banyak kajian yang dilakukan oleh ulama Islam dan ekonom muslim. Secara umum para ulama sepakat bahwa salah satu sebab utama dari kiris ekonomi  modern karena ekonomi berbasis riba atau bunga. Dalam buku Perbankan Syariah karya Hendri Tanjung, Ph.D[6] sangat jelas menghubungkan antara riba atau bunga dengan inflasi dan krisis ekonomi.

Sedangkan terkait dengan kebijakan Fiskal yang dilakukan oleh Negara, Fiqih Muamalah juga telah banyak membahas dasar-dasar Fiskal yang mencukupi. Fiskal dalam Islam utamanya pada zakat, kemudian ada perangkat yang lain seperti kharaj (pajak tanah), jizyah (pajak badan) dll. Artinya disamping zakat secara umum Islam membolehkan penetapan pajak kepada masyarakat. Dan jika pemerintah sudah menetapkan membayar pajak, maka hukumnya menjadi wajib bagi masyarakat untuk membayarnya.

Lebih dari itu banyak bab dalam Fiqih Muamalah yang belum diaplikasikan atau diakomodasi dalam ekonomi modern. Ini menunjukkan bahwa Fiqih Muamalah itu lebih lengkap dan komprehenship untuk dijadikan landasan Ekonomi Islam maupun ekonomi secara umum.

  1. Karakteristik Sistem Ekonomi Islam

Sistem ekonomi Islam sebagai kepanjangan dari sistem Islam tentu saja karakteristiknya tidak jauh berbeda dengan sistem Islam. Yusuf Qaradawi dalam bukunya ‘Peran Nilai dan Moral Ekonomi Islam’ mengungkapkan karakteristik ekonomi Islam[7], yaitu:

Ekonomi ilahiyah;  ekonomi akhlak; ekonomi kemanusiaan dan ekonomi pertengahan.

Ekonomi ilahiyah maksudnya bahwa tujuan, kegitan dan sarana ekonomi berlandaskan nilai-nilai yang datang dari Allah Ta’ala. Tujuan dalam berekonomi untuk mencari kemaslahatan, falah (sejahtera) dan ridho Allah. Kegiatan dan cara dalam melakukan aktivitas ekonomi baik dalam sektor produksi, konsumsi, distribusi maupun sirkulasi harus sesuai dengan ajaran Islam. Sedangkan  sarananya tidak menghalkan cara, tetapi dengan sarana yang halal dan dibolehkan Syariat Islam.

Ekonomi akhlak maksudnya adalah bahwa dalam kegiatan ekonomi tidak terpisah dengan akhlak. Dan ekonomi Islam merupakan ekonomi yang komprehensif, saling melengkapi dan saling melengkapi dengan nilai-nilai Islam yang lain. Dan akhlak adalah perekatnya. Maka dalam ekonomi Islam tidak boleh ada  dusta, zhalim, menipu, merusak dan akhlak buruk lainnya.

Ekonomi kemanusiaan maksudnya adalah bahwa ekonomi Islam sesuai dengan fitrah manusia. Ekonomi Islam bertujuan memenuhi kebutuhan dasar manusia dan meraih kesejahteraan, baik lahir maupun batin. Dalam ekonomi Islam boleh mengambil keuntungan,  memiliki harta kekayaan,  menikmati hasil kerja yang halal dll.

Ekonomi pertengahan atau keseimbangan, ekonomi Islam sesuai dengan ajaran Islam yang merupakan agama wasathi (pertengahan dan seimbang). Seimbang antara pemenuhan kebutuhan lahir dan batin, seimbang antara kebutuhan dunia dan akhirat, seimbang antara individu dan masyarakat. Ekonomi Islam memberikan kebebasan kepemilikan individu, namun  juga ada hak umum atau masyarakat yang harus ditunaikan.

Dalam ungkapan yang berbeda, walaupun memiliki kesamaan makna,  buku Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam[8], menyebutkan 10 karaktersitik ekonomi Islam yaitu:

Harta kepunyaan Allah dan manusia adalah khalifah atas harta tersebut; ekonomi terikat dengan aqidah syariah dan moral; keseimbangan antara kerohaniaan dan kebendaan; keseimbangan antara kepentingan individu dan umum; kebebasan individu dijamin dalam Islam; Negara diberi wewenang turut campur dalam perekonomian; bimbingan konsumsi; petunjuk investasi; zakat dan larangan riba.

  1. Mengembangan Ekonomi Islam berbasis Epistemologi dan Metodologi Islam

Sesungguhnya ekonomi Islam sudah mengalami kematangan  dan sudah menjadi disiplin ilmu tersendiri yang kokoh.  Para ulama Islam baik yang ahli di bidang Syariah maupun Ekonomi telah merumuskan ilmu dan sistem ekonomi Islam yang berdasarkan kajian yang matang baik yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, dengan menggunakan pendekatan Fiqh. Begitu juga mereka melakukan penelitian pada ekonomi konvensional kemudian melakukan komparasi dan islamisasi terhadap ekonomi konvensional.  Maka jadilah ekonomi Islam baik sistem maupun ilmu sebagaimana yang kita lihat sekarang.

Namun demikian sebagai sebuah ilmu, maka ilmu ekonomi Islam akan terus berkembang sesuai dengan perkembanagan zaman. Ada hal-hal yang mungkin tidak relevan lagi dari produk yang lalu, dan ada yang perlu diperbaiki dan ada yang harus terus dikembangkan.

Sebagai contoh, terkait pendapat ulama tentang hukum bunga bank atau bunga secara keseluruhan. Kajian ulama Islam di awal-awal masih memberikan toleransi tentang bunga, khususnya ulama di Indonesia. Sebagian ulama ada yang menguhukumi boleh karena darurat, sebagian ulama yang lain menghukumi syubhat, sedangkan sebagian ulama membolehkan dalam satu kasus dan melarang pada kasus lain. Tetapi perkembangan berikutnya para ulama hampir sepakat mengharamkan bunga, dan mereka berpendapat bahwa bunga bank adalah riba yang diharamkan[9].

Pendapat inilah yang disepakati oleh para ulama, diantaranya ulama yang tergabung pada Lembaga Riset Islam Al-Azhar di Kairo  tahun 1965, Lembaga Fiqh Islam OKI di Jeddah tahun 1985, Lembaga Fiqh Islam Rabithah ‘Alam Islami di Mekkah tahun 1406 H, Keputusan Muktamar Bank Islam Kedua di Kuwait tahun 1983, Fatwa Mufti Mesir tahun1989,  telah menyepakati bahwa bunga’ bank adalah riba’[10]. Dan bunga bank pada akhirnya  diharamkan juga oleh MUI  dalam fatwanya pada tahun 2004.[11]

Pada parktek perbankan syariah di Indonesia, penulis juga melihat fatwa-fatwa yang dikeluarkan DSN (Dewan Syariah Nasional MUI) sangat akomodatif dan lentur, memberikan fatwa boleh dari hasil kajiannya terhadap produk bank konvensional, kemudian dilakukan modifikasi sesuai aqad dalam Fiqih Muamalah. Hal ini barangkali, diantara sebabnya adalah para Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang menjadi pengawas Bank Syariah  masih dibiyayai oleh bank Syariah yang bersangkutan. Diantara kelemahan lain, tidak adanya seleksi yang profesional, untuk menjadi anggota DSN, yang ada adalah unsur kedekatan. Namun demikian, sebagai umat Islam kita harus menghormati dan menerima Fatwa yang dikeluarkan DSN sebagai lembaga yang resmi menangani aspek Syariah Islam dari bank Syariah. Dan tentu saja praktek Bank Syariah di lapangan akan lebih longgar lagi karena pengawasan DPS kurang ketat, dan SDM di Bank Syariah masih lemah.

Ekonomi Islam  merupakan salah satu ilmu dalam Islam yang bersumber dari  Allah. Dan ilmu Allah yang diberikan kepada manusia terbagi dua yaitu ilmu yang bersumber dari ayat-ayat qauliyah, dalam hal ini adalah Al-Qur’an dan Sunnah dan ilmu yang bersumber dari ayat-ayat kauniyah atau alam semesta. Kemudian akal, hati dan indra mencernanya.

Dari Al-Qur’an dan sunnah maka melahirkan ilmu-ilmu Syariah, baik terkait dengan aqidah, syariah maupun akhlak. Dan dari Syariah inilah lahir ilmu Fiqih, kemudian berbagai macam pembahasan Fiqih dilakukan oleh ulama, diantaranya Fiqih Muamalah atau buyu’ (perdagangan), ZISWAF (Zakat, Infak, Shadaqah dan Waqaf) dan pembahasan tentang harta.  Ketiga ilmu inilah yang merupakan landasan dasar ekonomi Islam.

Ekonomi Islam juga sebagiannya diambil dari ilmu umum, salah satunya ilmu ekonomi konvensional yang berasal dari studi empiric berdasarkan ayat-ayat kauniyah. Walaupun ilmu ekonomi konvensional sudah melalui studi ilmiyah, tetapi dalam prosesnya tidak terlepas dari pemikiran dan budaya manusia. Maka agar dapat diterima menjadi bagian dari ilmu yang islami, harus melalui proses islamisasi.

Kerangkan pengembangan ekonomi Islam berdasarkan epistemologi dan metodologi Islam dapat dijelaskan dengan gambar berikut:

 

  1. Kesimpulan dan Penutup

Sesungguhnya  ilmu ekonomi Islam sudah sangat kokoh sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri. Dan dalam prakteknya juga memperlihatkan kemajuan yang sangat signifikan. Bahkan sebagai sebuah ilmu, maka ekonomi Islam lebih kokoh, lebih komprehensif dan lebih baik dari ekonomi konvensional. Hal ini karena ekonomi Islam secara sumber rujukan lebih lengkap, Ekonomi Islam memadukan ayat-ayat Qauliyah yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah dengan ayat-ayat Kauniyah berupa kajian empiris yang menghasilkan  ilmu modern.   Sedangkan ilmu ekonomi konvensional tidak menerima ayat  qauliyah atau wahyu yang menyebabkan rapuhnya ekonomi konvensional.

Namun demikian, sebagai ilmuwan, kita harus tetap  kritis konstruktif, terhadap kekurangan dan kelemahan ekonomi Islam, baik dalam tataran ilmu maupun praktek. Dan para ilmuwan dituntut untuk terus mengembangankan ekonomi Islam berbasis epistemologi dan metodologi Islam.

Akhirnya, penulis memohon saran, nasehat dan masukan dari para pembaca untuk karya ini, dan sekaligus mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan yang  ada. Wallahu a’lam bishawwab.

 

Daftar Pustaka

  1. Hendri Tanjung, Phd. Perbankan Syariah
  2. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Bulughul Maram . 2007 Libanon Darul Kutub Al-Ilmiyah
  3. MUI. Kumpulan Fatwa MUI
  4. Munrokhim Misanam, M.A.Ec., Ph.D dkk. 2012. Ekonomi Islam. Yogyakarta. Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam ( P3EI) Universitas Islam Indonesia, Rajawali Press,
  5. Mustafa Edwin Nasution dkk. 2010. Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam-, Jakarta Kencana
  6. Salim Segaf Al Jufri. Riba wa Adhraruhu. Tesis untuk meraih Magister Syariah Islam di Universitas Madinah
  7. Sayyid Sabiq. 1992  Fiqih Sunnah . Libanon. Darul Fikri
  8. Prof. Dr. Yusuf  Qaradhawi Bank Tanpa Bunga

Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam– 1997. Jakarta. Robbani Perss

 

 

 

 


[1] Berkata syekh al-Bani dalam kitab as-Silsilah ad-Dhaifah 6/519 Hadits Dhaif dan maudhu.

[2] Lihat kitab-kitab Fiqih, hampir semuanya membahas bab besar, biasa disebut kitab, yaitu kitabul buyu’

[3] Ekonomi Islam – Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam ( P3EI) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Rajawali Press, 2012

[4] Lihat Bulughul Maram – Ibnu Hajar Al-‘Asqalani

[5] Lihat Fiqih Sunnah jilid 3- Sayyid Sabiq

[6] Perbankan Syariah, Hendri Tanjung, Phd

[7] Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam– Dr. Yusuf Qaradhawi, robbani Perss Jakarta 1997, hal 25

[8] Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam– Mustafa Edwin Nasution dkk, Jakarta  Kencana 2010, hal 18

[9] Riba wa Adhraruhu – Salim Segaf Al Jufri, Tesis untuk meraih Magister Syariah Islam di Universitas Madinah

[10] Bank Tanpa Bunga Dr. Yusuf Qaradhawi hal. 135-155

[11] Kumpulan Fatwa MUI

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY