Perceraian Tertahan oleh Suami

Perceraian Tertahan oleh Suami

167
0
SHARE

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Ustadz ada yang ingin ana tanyakan : Ada laki-laki yang sudah menikah, namun ia suka ringan tangan terhadap istrinya yang baik.  Setelah diselidiki ternyata si suami ada WIL (wanita idaman lain).  Sehingga suatu saat, si istri sudah tidak tahan menghadapi ulah suaminya…. Ia (istrinya) minggat ke rumah orang tuanya, sembari minta cerai kepada suaminya.  Namun si suami tidak mengabulkan permintaan istrinya.  Sudah hampir dua bulan mereka pisah rumah. Anaknya yang 2 tahun dan 5 bulan diasuh si istri….dengan tanggungan nafkah anak dari suaminya, sedangkan nafkah istri tidak diberi. Perlu diketahui, mereka awal menikah tidak melalui KUA, hanya
mengundang tokoh agama setempat.  Si istri berharap sekali, ada proses perceraian yang sah…….Bagaimana ya tadz? Mohon Nasehatnya tadz…..Syukron tadz.

 

Assalamu alaikum wr.wb.

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil alamin. ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbihi ajmain. Wa ba’du:

Saudariku yang di rahmati Alloh swt. Dalam proses Pernikahan dan perceraian perlu diperhatikan pertimbangan secara hukum Islam dan hukum negara. Secara hukum agama, pastilah terkait masalah syarat, rukun dan sunah yang telah di tetapkan dalam Al-quran, Sunah Nabi dan ketetapan ulama fiqh.

Perceraian dalam Islam bisa dilakukan dari pihak suami ( talaq ) dan juga gugatan dari istri ( khulu ).
Talaq adalah ungkapan perceraian yang keluar dari pihak suami kepada istrinya, setelah talaq diputuskan maka akan berlaku masa iddah bagi istri (tidak boleh ada akad ijab qobul pernikahan) selama 3 bulan karena istri masih menjadi hak suami untuk rujuk kembali, seperti dalam Quran surat at-talaq : ayat 4. Adapun hak istri selama masa iddah dari suaminya adalah hak rujuk (kembali menjadi istri tanpa mengulang ijab qobul), hak tinggal di rumah suami (tidak boleh diusir), hak nafkah untuk hidup. Karena pada masa iddah istri yang tertalaq tetap menjadi milik suami untuk rujuk menjadi suami istri kembali, seperti dalam surat albaqoroh : 228. Ungkapan rujuk semasa iddah ini bisa dengan lisan suami secara langsung atau dengan ungkapan tubuh kemesraan kepada istrinya (cumbu dan kemesraan).

Namun jika sudah melewati masa iddah maka istri sudah menjadi wanita lain yang bisa dinikahi oleh pria manapun yang ingin menikahinya. Dengan demikian rujuk setelah lewat masa iddah harus mengulang ijab qobul dan mahar baru dalam pernikahannya. Sedang dari pihak Istri namanya khulu dan harus melewati proses pengadilan dari awal pengaduan hingga keputusan finalnya.

Adapun secara hukum negara, akan ada proses talaq/ cerai jika secara uu negara di akui terlebih dahulu pernikahan yang sah ( ada buku nikah). Seperti halnya anak akan mendapat akte kelahiran jika dipenuhi persyaratannya yaitu buku nikah kedua ortu nya. Maka, pada kasus ibu bisa jadi secara hukum negara akan melalui proses persidangan terlebih dahulu. Saran kami, kuatkan kesabaran dan ektra pengorbanan kembali menjadi istri utk suami, setelah itu penuhi kewajiban sebagai warga negara untuk tercatat dalam uu negara dengan mendapatkan buku nikah, agar kemudian hari haknya sebagai isteri dan anak akan di lindungi secara hukum islam dan hukum negara.

Bisa pula meminta bantuan kepada para tokoh dan ustadz, khususnya yang telah menjadi saksi pernikahan, untuk memberikan nasihat kepada sang suami agar menukaikan kewajibannya dan memenuhi hak isterinya.

Wallahu a’lam.
Nur Hamidah, Lc, MA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY