Melepas Jilbab Saat Mendaki Gunung

Melepas Jilbab Saat Mendaki Gunung

89
0
SHARE

 

assalammu’alaikum warohmatullahi wabarakatu . Ustad saya mau bertanya , ketika saya melakukan perjalanan pendakian ke gunung , saya tidak memakai jilbab .meskipun biasanya kalau keluar rumah atau pergi kuliah saya memakai jilbab . saya melepas jilbab ketika perjalanan itu karna saya pikir panas berdebu lembab tidak mandi untk beberapa hari . lalu saya mendapat hujatan oleh saudara saya,ia mengatakan saya munafik dan sebaiknya membuang jauh jilbab saya . saya sangat merasa bersalah hanya karna satu hal kecil menyebabkan akibat fatal .menurut ustad bagaimana pendapat ustad tentang saya membuka jilbab dengan alasan diatas tersebut ? mohon pencerahannya ustad agar hati saya tidak sedih terus seperti ini . terimakasih , ustad .

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du

Pertama, Allah menyuruh kita untuk masuk Islam secara keseluruhan dan total (QS al-Baqarah: 208). Nabi saw juga bersabda, “Bertakwalah di mana saja (dan kapanpun) engkau berada…” Ini menunjukkan bahwa kita harus menunjukkan keislaman kita baik di saat lapang maupun susah, baik dalam ibadah, mumalah, bekerja, sekolah, olah raga, rekreasi dan seterusnya. Termasuk ketika melakukan pendakian, kita dituntut untuk tetap berpegang pada Islam. Di antaranya tetap menjaga shalat, menjaga akhlak, menutup aurat, menjaga batas hubungan dengan lelaki yang bukan mahram, dst.

Kedua, ketika kita tidak menjalankan salah satu bagian dari Islam, atau kita meninggalkan salah satu perintah-Nya, maka yang harus dilakukan adalah bertobat dan meminta ampunan. Yaitu dengan menyesal, segera memperbaiki diri, dan bertekad untuk tidak mengulang. Kalau itu yang dilakukan pasti Allah mengampuni dosa hamba-Nya. (Lihat QS az-Zumar: 53).  Nabi saw bersabda, “Orang yang bertobat dari dosa,  seperti orang yang tidak punya dosa.” Karena itu, tidak ada kata putus asa. Sebab, pintu tobat selalu terbuka.

Ketiga, tidak dibenarkan kepada siapapun yang melihat dosa dan kesalahan saudaranya untuk semakin menjerumuskannya dan memvonisnya sebagai orang kafir, munafik, pendusta, dst. Namun kewajiban kita saat melihat kesalahan orang apalagi saudara kita untuk menolongnya dan mengembalikannya pada jalan yang benar. Karena itu, ketika ada sahabat yang melaknat peminum khamar, Rasul saw menegur dengan berkata, “Jangan engkau menjadi pembantu setan dalam menjerumuskan saudaramu.”

Jadi, benar bahwa tindakan Anda melepas jilbab merupakan tindakan keliru. Karena betapapun sulit kondisi ketika itu, Anda tetap harus mengenakan jilbab dan menutup aurat. Namun demikian pintu tobat tetap terbuka. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah pada kita semua. Amin.

Wallahu a’lam
Wassalamu alaikum wr.wb.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY