Batas Sikap Suami Kepada Isteri yang Sudah Ditalak Raj’i

Batas Sikap Suami Kepada Isteri yang Sudah Ditalak Raj’i

71
0
SHARE

Assalamu’alaikum wr. Wb.
Ustad, ada yang ingin saya tanyakan…

1. Saya pernah baca di salah satu sumber bahwa dalam masa iddah, istri diperbolehkan mempercantik diri di hadapan suami yg mentalak, boleh menggunakan wangi-wangian krn masih berstatus suami-istri apakah benar?
2. Apakah istri yang masih dalam iddah boleh memeluk suami yang mentalaknya? (Memeluk tanpa rasa syahwat)
3. Apakah diperbolehkan tidur 1 ranjang tanpa digauli jika diminta oleh suami yg mentalak walaupun istri tidak rela?
4. Terakhir, jika sudah melewati masa iddah dan tidak rujuk, bagaimana tatalaksananya? Apakah suami yg mentalak harus mengantarkan mantan istri ke rumah orang tuanya? Walaupun orang tua belum tahu menahu masalah perceraian anaknya?

Sekian dari saya Pak Ustad. mudah-mudahan bermanfaat ilmunya bagi yang mempunyai permasalahan yg sama dgn pertanyaan-pertanyaan yg saya ajukan..
Terimakasih atas perhatiannya Ustad..
Wassalamu’alaikum

 

Jawaban

Assalamu alaikum wr.wb.

Alhamdulillahi Rabbil alamin. Ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbihi. Amma ba’du:

Terkait dengan interaksi dan batas-batas hubungan suami dengan isterinya yang telah ditalak raj’i, maka para ulama berbeda pendapat:

Kalangan Hanafi dan Hambali berpendapat bahwa isteri yang sudah ditalak raj’i tetap seperti isterinya. Karena itu, ia bisa diperlakukan sebagaimana biasanya seb agai seorang isteri seperti tidur dalam satu ranjang, berkhalwat, berhias untuknya, jalan bersama, dan seterusnya, entah si suami berniat rujuk ataupun tidak.

 

Dalam Syarah Kitab al-Mumti’ karya Syeikh Ibn Utsymin disebutkan, “Sang isteri (yang sudah ditalak raj’i) harus tetap taat. Ia boleh membuka aurat untuknya, berkhalwat dengannya, memakai wewangian,bersenda gurau, dan melakukan perjalanannya…”

 

Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah juga disebutkan, “Kalangan Hanafi—dan juga pendapat kalangan Hambali—bahwa boleh hukumnya bersenang-senang dengan isteri yang sudah ditalak raj’i, boleh berkahlwat dengannya, menyentuhnya, serta memandangnya dengan niat rujuk. Jika tanpa niat rujuk, maka hukumnya menurut kalangan Hanafi adalah makruh tanzihiyah. Pasalnya dalam masa iddah, ia masih seperti isterinya yang boleh dirujuk meski tanpa ridhanya.”

 

Sementara menurut kalangan Syafii dan Maliki, isteri yang sudah ditalak raj’i hukumnya seperti wanita asing. Karena itu, tidak boleh bersenang-senang dengannya seperti dicium, tidur bersama, serta melakukan perjalanan dengannya.

 

Wallahu a’lam

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY