Meminjam dengan Rupiah, Membayar dengan Dollar

Meminjam dengan Rupiah, Membayar dengan Dollar

107
0
SHARE

 

Pada tahun 1989 seseorang meminjam uang sebesar $5700 dengan kurs rupiah pada saat itu Rp.1.900. jatuh tempo pinjaman sampai dengan 24 februari 2015. Kurs dolar pada saat ini adalah Rp.12.975/dolar. Akad pinjamnya adalah dolar. Pada saat meminjam yang berhutang menerima mata uang rupiah Rp.10.830.0010 10.830.000-
Pertanyaannya; apakah yang berhutang itu melunasi hutangnya dengan nilai Rp.10.830.00010.830.001 atau Rp.73.957.500 (5.700×12.975)?

Jawaban

Assalamu alaikum wr.wb.

Alhamdulillahi Rabbil alamin. Ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbihi. Amma ba’du:

Pada dasarnya pinjaman atau hutang harus dikembalikan dalam bentuk seperti yang ia pinjam, entah berupa emas, perak, atau barang tanpa melihat kepada perbedaan nilai harga atau nilai jual antara hari ketika meminjam dan mengembalikan. Demikian pendapat para ulama. Sebab,masing-masing memiliki nilai sendiri. Jadi, meskipun harganya naik atau turun, nilainya tetap tidak berubah.

Dalam kitab al-Muhadzdzab, asy-Syirazi berkata, “Orang yang meminjam wajib mengembalikan barang yang serupa atau yang sejenis.” Dalam kitab al-Mughni, Ibn Qudamah juga berkata, “Orang yang berhutang harus mengembalikan barang yang serupa entah harganya naik, turun, atau tetap.”

Dalam hal ini karena yang diterima adalah dalam mata uang rupiah, maka si peminjam juga harus mengembalikan dalam mata uang rupiah, bukan dolar.

Kesepakatan untuk membayar dengan mata uang lain, selain yang diterima oleh peminjam diharamkan. Sebab, Rasul saw bersabda, “Emas dengan emas, perak dengan perak,…” artinya harus dengan yang serupa pada saat dipinjam. Terkecuali kesepakatan untuk melunasi terjadi pada saat pembayaran, yakni si peminjam ingin mengembalikan dalam bentuk dolar lalu si pemberi pinjaman ridha, namun dengan nilai yang sama dengan yang dipinjam. Dengan demikian, kalau yang dipinjam Rp 10.830.000 10.830.0 10,-‘ kemudian akan diganti dengan dollar maka harus senilai dengan Rp 10.830.000 10.830.001; bukan senilai pada saat peminjaman sebab hal itu akan membuat jumlahnya membengkak sehingga bisa jatuh pada riba nasi’ah.

Terkecuali saat meminjam, si peminjam menerima uang dollar, maka ia harus membayar dengan dollar pula sebanyak yang dipinjam. Adapun terkait dengan perubahan harga dollar yang luar biasa antara saat peminjaman dan saat pembayaran, para ulama memberikan penjelasan sebagai berikut:

Pertama, jika naik turunnya nilai mata uang tersebut terbilang kecil, yaitu tidak sampai sepertiga, maka dalam kondisi demikian, wajib membayar seperti yang dipinjam (dalam hal ini sebanyak dolar yang dipinjam). Namun jika perubahan nilai mata uang tersebut sepertiganya atau lebih lalu kedua pihak (peminjam dan pemberi pinjaman) tidak menemukan titik kesepakatan, dalam kondisi demikian harus ada usaha berdamai dengan kerelaan untuk saling menanggung resiko yang ada pada masing-masing pihak. Sebab kondisi tersebut terjadi di luar dugaan dan merupakan ketentuan Allah Swt. Jika tidak, maka pasti akan sangat merugikan salah satu pihak. Bila tetap tidak ada titik kesepakatan dan usaha damai tidak berhasil, maka bisa ditempuh jalur pengadilan.

Kadar sepertiga menjadi patokan ulama berdasarkan sejumlah nash yang mengaitkan sejumlah persoalan dengan sepertiga. Misalnya dalam hal wasiat dan seterusnya. Nabi saw bersabda dalam potongan hadits, “Sepertiga dan sepertiga itu banyak.”

Wallahu a’lam
Ca

Wassalamu alaikum wr.wb.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY