Menggerakkan Telunjuk Saat Tasyahhud

Menggerakkan Telunjuk Saat Tasyahhud

238
0
SHARE

Assalamulaikum wr wb

Ustadz mau bertanya tentang hukum menggerakkan jari telunjuk pada saat duduk tasyahud di akhir sholat pada rakaat terakhir ?

wassalamu’alikum

saif

 

Jawaban

Assalamu alaikum wr.wb.

Alhamdulillahi Rabbil alamin. Ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbihi. Amma ba’du:

Pertama perlu diketahui bahwa memberi isyarat dengan telunjuk saat tasyahhud hukumnya sunnah. Artinya, meskipun tidak dilakukan, tidak membatalkan shalat dan tidak mengharuskan sujud sahwi. Hanya saja, tidak mendapatkan pahala.

Kedua, para ulama berbeda pendapat tentang cara memberi isyarat dengan telunjuk tersebut:

Kalangan Syafii berpendapat bahwa memberi isyarat dengan telunjuk dilakukan hanya sekali saat mengucap illallah dalam kalimat syahadat.

Kalangan Hanafi berpendapat bahwa telunjuk diangkat saat mengucap laa ilaha. lalu meletakkannya lagi saat mengucapillallah.

Kalangan Maliki bberpendapat bahwa telunjuk itu saat tasyahhud digerakkan ke kiri dan ke kanan sampai salam.

Sementara kalangan Hambali memberi isyarat dengan telunjuk setiap kali menyebut nama Allah sebagai isyarat kepada tauhid.

Demikian perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam memberi isyarat dengan telunjuk saat tasyahhud.

Bagi kalangan Syafii makruh hukumnya menggerakkan telunjuk secara terus-menerus berdasarkan riwayat dari Nabi saw. Disebutkan bahwa Nabi saw memberi isyarat (dengan telunjuk saat tasyahhud) tatkala berdoa dan tidak menggerakkannya. (HR Abu Daud dan an-Nasai).

Sementara bagi yang menggerakkan secara terus-menerus, sekedar memberi isyarat dengan telunjuk tidak cukup dan tidak memenuhi sunnah. Sebab dalam riwayat lain Nabi saw mengangkat telunjuk dan menggerakkannya saat berdoa. (HR an-Nasai dan ad-Darimi).

Kalau bagi kalangan kedua, kata “menggerakkan” dipahami sebagai menggerakkan secara terus menerus, namun bagi kalangan kedua maksudnya adalah sekedar memberi isyarat agar tidak bertentangan dengan hadits sebelumnya.

Bagaimanapun, perbedaan pendapat di atas bukanlah perbedaan dalam hal prinsip dan pokok. Ia hanya perbedaan dalam hal teknis dan cara memberi isyarat. Sehingga cara manapun yang dipilih tetap dalam kerangka sunnah sebagai hasil dari pemahaman masing-masing terhadap riwayat yang ada.

Wallahu a’lam

Wassalamu alaikum wr.wb.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY