Jeda Puasa Kaffarah di Hari Tasyrik

Jeda Puasa Kaffarah di Hari Tasyrik

228
0
SHARE

Asslamu’alaikum wr.wb
Mohon Pencerahanny. Saya melaksanakan Puasa Kafaro selama 60 hari, tanpa jeda,, karena berhubungan dgn Istri di siang hari di bulan puasa,, dan waktu itu pengetahuan untuk pertanggung jawaban atas apa yang saya lakukan karena saya masih awam. Dan baru-baru saja saya tau harus mengganti puasanya dengan 60 hari tanpa jeda.

Yg saya tanyakan:
– pada hari raya iedul adha besok tgl 24-10-15.. Dan pada hari setelahnya, ada hari tasyrik,, bagaimana dgn puasa saya? Saya Jeda dl 3 hari karena hari Tasyrik? Atau bagaimana?  Kebetulan sy sudah mendekati hari yg ke 57 di tanggal 24-10 besok.

Demikian, terima ksh, Wassalamu’alaikum Wr Wb

Jawaban

 

Assalamu alaikum wr.wb.

Alhamdulillahi Rabbil alamin. Wasshaatu wassalamu ala Rasulillahi. Amma ba’du:

Orang yang sengaja berhubungan di siang hari Ramadan wajib atau harus membayar kaffarah atas perbuatan tersebut. Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam an-Nawawi berkata, “Menurut madzhab kami dan madzhab seluruh ulama, orang yang berjima secara sengaja berarti telah merusak puasa satu hari dari Ramadannya. Kaffarahnya berupa membebaskan budak yang sempurna (tidak cacat). Jika tidak mampu membebaskan budak, maka harus berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu juga maka harus memberi makan kepada enam puluh orang miskin. Setiap mereka diberi satu mud.”

Karena budak saat ini tidak ada, maka yang paling realistis adalah berpuasa dua bulan berturut-turut. Bagaimana caranya? Di lihat dari awal pelaksaanaan puasa kaffarah, ia boleh dimulai dari awal, tengah, atau akhir bulan. Tidak ada keharusan untuk dimulai dari awal bulan. yang penting dilakukan selama dua bulan (60 hari) secara berturut-turut tanpa jeda.

Lalu bagaimana jika ditengah puasa tersebut bertemu dengan hari yang dilarang berpuasa seperti yang Anda sebutkan? Maka tentu saja jika bertepatan dengan hari-hari yang dilarang berpuasa, maka puasa kaffarahnya harus dihentikan untuk sementara. Namun kemudian dilanjutkan lagi. Di antara hari yang dilarang berpuasa adalah hari raya iedul adha (10 dzulhijjah) dan hari tasyrik (11-13 dzulhijjah).

Demikian pula jika sedang dalam kondisi sakit atau safar yang tidak dimaksudkan untuk berbuka, maka boleh menghentikan puasanya untuk kemudian diteruskan kembali ketika udzurnya sudah selesai.

Berbeda halnya jika tanpa udzur syar’i tidak berpuasa, maka puasa kaffarahnya menjadi batal dan harus mengulang dari awal.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu alaikum wr.wb.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY