Shalat Tanpa Mandi Wajib

Shalat Tanpa Mandi Wajib

257
0
SHARE

Assalamualaikum ustadz, saya mau tanya. Dalam hukum Islam, mandi besar kan diwajibkan bagi umatnya untuk membersihkan hadas besar untuk sholat. Pertanyaan saya adalah apakah seseorang yang sudah bersuami istri jika melakukan hubungan intim setiap hari pasti kan air mani sang suami keluar ustad apakah sang suami wajib mandi besar ustadz? Sedangkan yang saya ketahui mandi besar itu agak ribet ustad jika di lakukan setiap hari. Ditambah jika tidak sempat mandi besar dipagi hari karena kepepet mau berangkt kerja. Apakah sholat di waktu siang hari itu sah ustad? Sedangkan saya prnh denger bahwa keluarny air mani suami itu halal ustad, jd gak perlu mandi besar lagi. Jd intinya apakah di wajibkan ustad seorang suami istri yg melakukan hubungan intim mandi besar? Terimakasih ustad. Semoga pertanyaan ini dijawab sebelumnya.  wassalamualaikum wr.wb.

 

 

Jawaban
Assalamu alaikum wr.wb.
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil alamin. Ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbih ajmain. Amma ba’du:

Di antara sebab yang mengharuskan mandi wajib sebelum shalat adalah keluarnya mani baik dalam keadaan terjaga maupun tidur serta berhubungan suami isteri (hub intim) meski tidak sampai mengeluarkan mani.  Kalau kedua hal di atas Anda alami atau Anda lakukan sebagai suami isteri, maka harus mandi wajib. Tidak benar bahwa tidak perlu mandi wajib.

Lalu terkait dengan shalat yang dikerjakan tanpa mandi wajib, tentu saja shalatnya tidak sah. Sebab di antara syarat sah shalat adalah bersih dari hadats dan najis.

Nah bagi orang yang beberapa kali dalam kondisi junub namun tidak pernah mandi sesudahnya, maka cukup baginya untuk mandi junub satu kali; tidak perlu berkali-kali. Satu kali mandi mencukupi untuk seluruh kondisi junub yang pernah ia alami. Mandi tersebut boleh dilakukan kapan saja, pagi, sore ataupun malam.

Dalam al-Majmu Imam an-Nawawi menyebutkan, “Terkait dengan mandi, ia hanya wajib mandi satu kali meski junub seribu kali atau lebih.”

Sementara, terkait dengan shalat yang tidak ia kerjakan atau ia kerjakan dalam kondisi junub, maka shalat tersebut harus diqadha’ (diganti) jika merujuk pada pendapat jumhur yang mengharuskan qadha shalat bagi yang meninggalkan entah karena sengaja atau tidak. Jika jumlah bilangan shalat yang ia tinggalkan atau yang ia kerjakan dalam kondisi junub diketahui jumlahnya, maka ia harus mengerjakan sebanyak itu atau dengan cara perkiraan.

Cara meng-qadha adalah dengan menunaikannya setiap hari di luar shalat wajib yang ia kerjakan, entah di waktu siang atau di waktu malam, sesuai dengan kemampuan.

Wallahu a’lam

Wassalamu alaikum wr.wb.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY