Bersuci dari Najis Babi

Bersuci dari Najis Babi

270
0
SHARE

Assalamu alaikum pak ustadz, saya tkw yg bekerja di china sebelumnya saya mau bertanya bila saya telah memegang daging babi lalu saya hanya mencuci bersih tangan saya dengan sabun kemudian saya wudhu lalu mengerjakan sholat apakah sholat saya sah pak ustadz?? Saya mohon penjelasan nya termikasih !!

 

 

Jawaban

Assalamu alaikum wr.wb.

Alhamdulillahi Rabbil alamin. Ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbihi. Amma ba’du:

Pertama, terkait dengan daging babi, para ulama berbeda pendapat tentang kenajisannya (najisnya babi). Kalangan Hanafi, Syafii, dan Hambali berpendapat bahwa babi najis. Dalilnya adalah surat al-An’am: 145.

Dulu para sahabat pernah bertanya kepada Rasul saw, “Kami bertetangga dengan ahlul kitab dan mereka memasak daging babi pada bejana mereka. Mereka juga minum arak dengan gelas-gelas mereka. Mendengar itu, Rasulullah saw bersabda, “Jika engkau menemukan wadah yang lain maka makan dan minumlah dengannya. Akan tetapi jika tidak ada, maka cucilah (wadah tersebut) dengan air kemudian makan dan minumlah.” (HR Abu Dawud)

Dari keterangan di atas, hendaknya kita berusaha untuk tidak menyentuh daging babi. Namun kalau terpaksa atau tidak sengaja menyentuhnya juga, apa yang bisa kita lakukan? bagaimana cara membersihkannya?

Sebagian ulama berpendapat bahwa cara membersihkan najis babi adalah sama dengan membersihkan najis anjing. Yaitu dengan mencucinya sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan debu atau tanah.

Namun menurut Imam an-Nawawi rahimahullah, dalam Syarahnya atas Shahih Muslim, sebagian besar ulama berpandangan bahwa najis babi tidak perlu dicuci tujuh kali seperti najis anjing. Dengan kata lain, cukup dicuci satu kali.

Sebagian ulama yang menyamakan najis babi dengan najis anjing melihat bahwa babi lebih kotor daripada anjing sehingga lebih layak untuk dicuci tujuh kali. Hanya saja menurut Ibn Utsaymin, pendapat tersebut lemah karena anjing sudah disebutkan dalam Alquran dan sudah ada sejak masa Nabi saw. Namun kenyataannya ia tidak disamakan dengan anjing.

Menurut kami, tidak ada keharusan untuk mencucinya berapa kali. Yang penting najisnya hilang.
Kalaupun Anda lebih cenderung kepada pendapat yang menyamakan dengan najis anjing, maka jika kesulitan untuk mendapatkan debu atau tanah, sebagian ulama membolehkan untuk mencuci dengan pengganti tanah seperti sabun dan sejenisnya.

Kalau itu yang Anda lakukan, maka sudah benar dan insya Allah shalat Anda sah.

Wallahu a’lam

Wassalamu alaikum wr.wb.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY