Hibah atau Waris?

Hibah atau Waris?

233
0
SHARE

Assalamu’alaikum wr.wb…

Pak ustadz, saya bungsu dari dua bersaudari. Kedua orangtua saya berusia 77 thn & alhamdulilah mereka sehat wal’afiat. Yang ingin saya tanyakan adalah:
1. Apakah ada perbedaan dlm pembagian warisan jika orgtua (harta milik ibu) sebagai pewaris masih hidup atau jika pewaris sudah meninggal dunia?
2. Apabila rumah yang atas nama ibu kami dijual saat ini, siapa saja yg berhak menerima & bagaimana penghitungannya?
3. Sehubungan dgn rmh tsb yg slm ini ditempati oleh kakak perempuan sy & keluarganya, apkh kakak sy boleh mengambil slrh uangnya?
4. Apabila orangtua (ibu) kami tdk mampu dlm pembagian warisan tsb, siapa yg dpt membantu pembagiannya?

Demikian pertanyaan2 sy, mohon kiranya pak ustadz berkenan membantu menjawabnya.
Terima kasih.

 

 

Assalamu alaikum wr.wb.

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil alamin. Ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbih ajmain. Amma ba’du:

Sebelum menjawab pertanyaan di atas pertama-tama kita harus mengetahui bahwa warisan diberikan setelah si pimilik harta meninggal dunia. Namun jika si pemilik harta belum meninggal dunia lalu hartanya akan dibagikan maka itu disebut sebagai hibah; bukan warisan.

Dalam hibah si pemilik harta (dalam hal ini ibu yang masih hidup) berhak memberikan kepada anaknya atau kepada siapa saja dengan cara yang adil. Adapun jika pembagiannya tidak sekarang; tapi setelah ibu, sebagai pemilik, meninggal dunia, maka harus sesuai dengan pembagian waris yang ditetapkan oleh syariat.

Misalnya bila ibu wafat dengan meninggalkan dua orang anak perempuan dan seorang suami, maka kedua anak perempuan mendapat dua pertiga dari seluruh harta waris  (entah berupa rumah atau yang lain). sementara suami mendapat seperempat.  Sisa harta diberikan kepada saudara kandung ibu kalau ada atau ponakannya sebagai asabah. Ini hanya contoh bila kasusnya benar semacam itu.

Wallahu a’lam

Wassalamu alaikum wr.wb

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY