Kurang Mendapat Nafkah Batin

Kurang Mendapat Nafkah Batin

264
0
SHARE

Assalamualaikum wr.wb
saya sudah menikah sekitar 1,5 th. Sejak menukah sampai sekarang suami saya jarang sekali memberikan nafkah batin. Nafkah lahir pun, hanya sekedarnya, hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Padahal suami saya bisa dibilang mapan. Saya tak masalah mau dikasih nafkah berapapun, toh saya masih bisa kerja, cari uang sendiri, utk keperluan saya. Tapi yang buat saya sedih kenapa dia jarng sekali memberi saya nafkah batin? Sebulan paling banyak 3 kali kami berhubungan badan. Apa dia guy?? Sering saya menemukan history di hp nya dia melihat foto pria telanjang, foto pasangan homo.. jijik sekali saya melihatnya. Menurut anda saya harus gimana?? Kadang saya ingin cerai saja.. saya ingin merasakan kebahagian seperti istri-isteri lain. Saya pernah solat istikharah minta petunjuk Allah. Setelah itu saya bermimpi suami saya memotong rambut saya smpai pendek sekali. Katanya kalau mimpi potong rambut akan berpisah dengan pasangan.  Mohon jawabanya dan solusi untuk permasalahan saya terimakasih. 
wassalamualaikum wr. wb

 

 

Jawaban

Assalamu alaikum wr.wb.
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil alamin. Ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbih ajmain. Amma ba’du:

Kami doakan ibu akan diberi kekuatan untuk selalu tegar, istiqomah dan sabar dalam menghadapi setiap masalah.

Ada beberapa masalah yang kami cermati dari kasus ibu

1. Masalah Nafkah lahir dan batin
2. Masalah tuduhan gay
3. Masalah Gugatan Cerai

Dengan demikian kami mencoba untuk membahasnya dalam perspektik islam

1. Kewajiban nafkah lahir dan batin adl tanggung jawab penuh dari pihak suami kepada istrinya.
Qs 2 : 223, Allah swt menyebutkan nafkah dgn istilah “rezki”. Hakekatnya sepakat para ulama dgn memperinci kewajiban tsb adalah sandang, pangan, papan, kesehatan lahir dan batin serta pendidikan istri.
Bahkan dalam Qs 4 : 34, Allah swt menjadikan suami sebagai pemimipin bagi wanita (istri/anak) dikarenakan para wanita tsb dinafkahi oleh suami dan ayahnya.
Karena itulah Allah swt meminta istri dgn kewajian membalasnya dengan ” Sholehat : berbuat baik pada suami”. “Qonitat: patuh pada suami”, dan ” Hafidzot : menjaga diri dan harta suami”.
Inilah kewajiban suami yang tidak akan gugur dan lepas dari pertanggung jawaban kelak di akhirat walau dengan alasan istri sudah mapan, istri ridho dgn kebakhilan suami. Diam dan kesabaran serta kelapangan istri tidak akan menggugurkan kewajiban nya kecuali alasan tidak mampu.

Saran saya, dalam kondisi seperti ini pihak manapun jangan mencari siapa yang salah dan benar, tapi bagaimana semua pihak berusaha mengalah dan mencari titik temu kenapa ketidak nyamanan, kepercayaan dan saling berkorban sudah hilang dalam tradisi berumah tangga kita. Seperti dalam urutan kewajiban istri sblm patuh kepada suami ternyata Allah swt lebih dahulu kan sikap “berbuat baik” terlebih dahulu.

2. Dalam Islam menuduh seseorang dengan keburukan atau kemaksiatan sangat berat konsekwensinya. Satu contoh dalam Qs 24 : 4, hukuman bagi penuduh perzinahan tanpa bukti maka akan dikenakan cambuk 80x dan tidak diterima persaksiannya.
Dengan demikian, jauh sblm lisan berucap kalimat tuduhan maka harus didasari dengan bukti ataupun persaksian. Semoga Allah swt melindungi kita dari prasangka buruk dengan orang lain apalagi dgn suami sendiri.
Allah swt memerintahkan kita untuk memghindari perbuatan prasangka. lihat QS 49 :12

3. Perceraian memang diatur dlm Islam hanya saja perceraian itu dibenci Allah swt. Perceraian memang target utama iblis untuk menghancurkan keluarga dan tatanan betmasyarakat. Seperti kisahnya dalam QS 2 : 102.
Saran kami sebelum memutuskan percerain, maka hadirkan terlebih dahulu rasa cinta seperti dulu memulai cinta bersemi 1,5 tahun yang lalu. 
Berangkat dari cinta ini maka kita sebagai istri akan berfikir siapa lagi yang akan menyelamatkan suami saya kalo bukan istrinya. Itulah rasa memiliki yang sejati. Tidak akan membiarkan suami terjerumus dlm kemaksiatan lebih dalam lagi.
Mulailah dengan berlapang dada terlebih dahulu, kemudian berfikir jernih mencari titik solusi, membuka diri untuk mengajak suami berdialog dan membicarakan visi dan misi rumah tangga kembali.

Semoga Allah swt akan membuka hati ibu dan suami karena hati adl milik Allah swt Qs 8 : 62./
Dengan kekuatan doa, rasa cinta pada suami ini yang kami saran kan terlebih dahulu. Jika belum berhasil proses hukum Gugatan suami ke pengadilan agama dengan berbagai delik pengaduan merupakan solusi yang paling terakhir nanti

Wallahu A’lam

Wassalamu alaikum wr wb

 

Nur Hamidah, Lc, M.A

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY