Sikap Terhadap Ibu Yang Suka Berhutang

Sikap Terhadap Ibu Yang Suka Berhutang

323
0
SHARE

Assalamu alaikum … saya laki-laki usia 21 tahun… alhamdulillah selesai SMK saya diterima bekerja di sebuah perusahaan dan alhamdulillah posisi saya disini sudah mencukupi untuk saya lanjut ke perguruan tinggi… saya punya ibu yang gemar sekali berhutang.. pertama hutangnya itu kecil.. lama kelamaan jadi banyak sekali dan jujur hutang nya itu semua ke bank keliling / rentenir.. Ayah saya sudah tidak bekerja karena kondisi yang tidak memungkinkan.. dan bisa dbilang saya yang jadi tulang punggung.. namun saya juga kewalahan untuk membayar hutang-hutang ibu.. saya sudah sering sekali peringatkan ibu.. dengan halus dan sedikit tegas.. tentang apa yang dilakukan ibu.. akhirnya saya sudah putus asa.. karena ibu tidak berubah juga.. bahkan sekarang untuk membayar hutang ibu sudah tega mengambil uang dari simpanan pribadi saya tanpa bilang.. akhirnya saya memutuskan untuk kost sendiri dan meninggalkan ibu.. karena demi Allah saya sudah tidak tahu harus bagaimana..

pertanyaan saya :

1. Apakah yg menimpa ibu dan saya adalah ujian? atau azab?

2. Apakah tindakan saya benar untuk meninggalkan ibu? karena jujur di usia saya yg skrng, sya tidak tau hrus berbuat apalagi…

(sebenarnya sy tidak ada maksud menelantarkan hanya sebagai ketegasan, in shaa allah saya faham sedikit2 agama.. dan saya tau durhaka kpd org tua adalah dosa besar..)

terimakasih…. saya sangat mengharapkan jawabannya.. jazakallahu khairan..

wassalamu’alaikum…

 

Jawaban
Assalamu alaikum wr.wb.

Bismilllahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil alamin. Ash-shalatu wassalamu ala Asyrafil anbiya’ wal Mursalin. amma ba’du:

Alhamdulillah, Allah swt menganugerahkan kepada anda kenikmatan dan kesempatan untuk berbuat baik kepada orang tua baik di kala mereka masih hidup maupun  di kala mereka sudah wafat.

Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan atas masalah hidup yang sedang dihadapi 
anda dengan ibu kandung. semoga ini memberikan pencerahan dan membuka pintu jalan keluar dan kemudahan serta kelapangan hidup anda dan keluarga.

1. Hidup ini adalah ujian. Bahkan selama kita hidup akan bersahabat dengan ujian, baik diuji lewat keluarga ataupun harta QS 64 : 14-17. Semua ujian ini untuk proses penyeleksian akan kualitas keimanan kita selama hidup. Seperti dalam surat QS 67: 1-2.

Kita harus berpikir positif kepada Allah swt bahwa semua ini adalah ujian bukan sebuah adzab. Sebab perbedaannya adalah ujian diturunkan karena Allah swt sayang kepada hamba-Nya yg beriman untuk semakin taqarub kepada Allah swt dan segera bertaubat dan memperbaiki diri menuju sorga -Nya Allah swt Qs 3 : 133-135. Adapun adzab diturunkan karena Allah swt murka terhadap kemaksiatan manusia dan diberikan hukuman setimpal. Itulah alquran membedakan  menggunakan kata fitnah (ujian) dengan adzab (siksa).

Lalu jadikan polemik memiliki ibu yang gemar berhutang sebagai ujian, bagaimana cara kita berdakwah seoptimal mungkin untuk membuat ibu kita menyadari dasyatnya bahaya hutang yang tidak dilunasi. Hutang adalah amanah dan membayarnya adalah kewajiban. Jika tidak dibayar, maka bisa membuat yang bersangkutan bangkrut di akhirat dengan istilah hadits Rosul ” muflisun”.

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR Muslim)

Dengan demikian jadikanlah “kegemaran berhutang ibu kandung” menjadi lahan dakwah untuk kita rubah dari gemar menjadi “menghindar”. Bukan kita rawat kegemaran tersebut dengan kita bayarkan hutang-hutangnya atau kita biarkan sehingga ibunda merasa tidak memiliki rasa bersalah dan menyesal dengan hutang tersebut tapi malah menuduh anak tidak bakti pada orang tuanya.

Sebagai juru dakwah, anak hanya mencoba mengingatkan dengan cara hikmah dan akhlak mulia. Agar muncul kesadaran akan kegemaran yang salah dan bisa menyebabkan kemudhorotan dan bahaya atas keselamatan ibu dan anggota keluarga yang lain di dunia. Adapun akhirat semua diminta pertanggung jawaban secara personal.

2. Atas pertimbangan di atas, tindakan anak meninggalkan ibu kandung perlu diperhatikan alasan dan pertimbangan manfaat dan mudhorot. Jika mendatangkan manfaat dan ibu menyadari akan perbuatan salahnya lalu bertaubat dan tidak mengulang kembali berinteraksi dengan riba (fatal keharamannya) maka anak tinggal di kost menjadi satu strategi dan solusi. Walau sebagai anak pasti membantu untuk menyelesaikan hutang piutang tersebut. Namun jika alasan anak meninggalkan ibunya tanpa ibunya tahu ini sebuah proses untuk menyadarkan ibunya, maka jangan sampai niat baik anak karena tidak dikomunikasikan maka akan menjadi bumerang buat anak dengan cap sebagai anak durhaka

Semoga Allah swt memberikan kekuatan kepada anda untuk ikhlas dan istiqomah berbakti kepada orang tua dan membuka pintu rezeki buat anda kelak.

Wallahu a’lam

Wassalamu alaikum wr

Nur Hamidah, Lc MA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY