Ketika Pemberi Hutang Marah dan Tak Mau Dibayar

Ketika Pemberi Hutang Marah dan Tak Mau Dibayar

190
0
SHARE

Assalamualaikum Wr Wb
Ustadz, saya mau menanyakan kasus yang dialami oleh kerabat saya. Singkatnya beliau pernah memiliki hutang dengan temannya. Pada waktu itu karena kondisi ekonomi yang memang lagi berat, belum bisa membayar hutang tepat waktu. Pihak yang memberi hutang akhirnya marah dan sakit hati karena keterlambatan itu.
Selang beberapa bulan terlambat, alhamdulillah akhirnya ada rejeki untuk membayar hutang. Namun ketika dihubungi lagi, pihak yang memberi hutang menolak untuk dihubungi dan tidak mau menerima pembayaran hutang tersebut. Tetapi tidak juga terlihat mengikhlaskan. Bahkan setelah selang satu tahun dan dihubungi lagi, sikapnya masih seperti itu.
Beliau juga sudah mencoba menghubungi ahli waris dari pemberi hutang untuk membayarkan namun jawabannya tetap sama, tidak mau menerima.
Setelah bertahun-tahun, kerabat saya ini sampai sekarang masih dihantui rasa bersalah karena merasa masih memiliki hutang. Namun untuk menghubungi lagi ada rasa khawatir takut membuka luka lama dan menyakiti si pemberi hutang lagi. Takutnya malah jadi dzalim. Bagaimana hukumnya Ustadz.

Jazakallahu Khairan katsiran.

 

 

Jawaban

Assalamu alaikum wr wb.

Bismilllahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil alamin. Ash-shalatu wassalamu ala Asyrafil anbiya’ wal Mursalin. amma ba’du:

Pertama:

Berhutang adalah perkara lumrah dalam kehidupan sosial. Dalam agama dia bukan perkara terlarang selama dilakukan berdasarkan tuntutan dan kebutuhan dan dengan cara-cara yang sesuai syariat serta komitmen untuk melunasinya tepat pada waktunya.

Yang tidak dibolehkan adalah apabila menunda-nunda pelunasan hutang, khususnya jika dia memiliki kemampuan dan kecukupan. Rasulullah saw bersabda,

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

Penundaan (pembayaran hutang) dari orang yang memilki kecukupan adalah zalim.” (Muttafaq alaih)

Adapun jika ternyata penundaan pelunasan itu bersumber dari kondisi yang tidak memungkinkan karena berbagai sebab yang dibenarkan syariat, seperti bangkrut, tertipu, rugi, dll, bukan karena kesengajaan dan kelalaian, maka perkara tersebut tidak termasuk dalam hadits di atas.

Dalam hal ini, pihak yang berhutang lah yang dituntut untuk memiliki toleransi. Ada dua peluang amal saleh yang dapat dia raih dalam kondisi seperti ini, yaitu memberi penangguhan atau membebaskan hutang saudaranya.

Sebagaimana Firman Allah Taala,

وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَن تَصَدَّقُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ (سورة البقرة: 280)

Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280)

 

Maka, jika penundaan anda untuk membayar hutang disebabkan oleh kondisi yang tidak memungkinkan dan itu tidak anda kehendaki dan sengaja, maka hal tersebut tidak mengapa bagi anda dan tidak berdosa, selama ada niat kuat untuk melunasinya kapan saja merasa mampu melunasinya.

 

Kedua:

Sikap pemberi hutang yang marah dengan keterlambatan lalu tidak bersedia menerima saat anda hendak melunasi hutang anda beberapa bulan kemudian, hal  tersebut tidak sepantasnya dia lakukan, karena tidak sesuai dengan pesan Allah Taala kepada orang seperti anda.

 

Tetaplah berlemah lembut kepadanya seraya berdoa semoga hatinya luluh. Sesekali boleh ditawarkan lagi kepadanya rencana pelunasan tersebut. Jika memang tidak ada perubahan, anda dapat simpan uang tersebut untuk diserahkan kepadanya jika dia memintanya sewaktu-waktu, atau anda salurkan uang itu ke dalam jalur sadaqah. Untuk hal ini, sebaiknya anda beritahu orang tersebut agar dia mengetahui masalahnya. Jika dikhawatirkan ada tuntutan di belakang hari dan jumlah uangnya besar, sebaiknya diperkuat dengan legalitas hukum, apakah lewat hakim atau notaris.

 

Wallahu a’lam.

Wassalamu alaikum wr wb

Abdullah Haidir, Lc.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY