Menghadapi Ayah Yang Tidak Pernah Shalat

Menghadapi Ayah Yang Tidak Pernah Shalat

326
0
SHARE

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, nama saya Indrawan, saya mau bertanya dan meminta pencerahan kepada pak ustadz soal keluarga saya yang berbeda agama. Begini pak ustadz, jadi ayah saya kebetulan keturunan tiong hoa, ibu saya orang pribumi, mereka menikah dulu secara Islam, karena pernah saya lihat kartu akta nikah nya.
Cuma yang jadi persoalan adalah Ayah saya itu kalau menurut saya hanya menjadi mualaf pada saat mau ijab kabul saja atau sebagai formalitas agar dapat menikah dengan ibu saya, karena saya perhatikan dari kecil sampai usia saya sekarang yang sudah menginjak 26 tahun Ayah saya ga pernah shalat apalagi jadi imam buat ibu saya, malahan cenderung dia kembali ke agama nya yang dulu dan malah membenci islam.

kenapa saya bilang benci karena tiap adzan maghrib di tv dia selalu mematikan tv, tiap ada ceramah selalu ganti channel, puasa juga ga pernah di bulan ramadhan, bahkan dia juga ga pernah menghormati ibu saya yang berpuasa karena masih disuruh memasak juga buat dia, dan seperti tanpa dosa makan dan minum di depan saya dan ibu saya.

Yang saya sangat sedih adalah ayah saya tidak bisa seperti ayah pada keluarga beda agama yang lainnya, dimana ada toleransi di sana. Namun anehnya Ibu saya menganggap pernikahannya seperti biasa saja seperti pernikahannya pada umumnya. Nah, yang mau saya tanyakan:
1. apa saya boleh meyuruh ibu saya bercerai saja dari ayah saya karena tidak bisa menjadi imam yang baik bagi ibu saya?

2. benarkah ibu saya bakal terseret ke api neraka karena ayah saya?

3. durhaka kah saya kalau saya meyuruh demikian serta mengumbar kejelekan ayah saya di internet seperti ini?

Demikian yang ingin saya tanyakan pak ustadz, saya rela di adzab Allah SWT kalau saya sampai memfitnah ayah saya seperti ni, mohon pencerahannya, terima kasih

Jawaban

Assalaamu alaikum wr wb

 

Bismillah walhamdulillahi. Washshalatu wassalamu ala Rasulillah. Amma Ba’du:

 

Pertama:

Kami turut prihatin atas sikap bapak anda. Semoga Allah mmeberi kekuatan iman dan keteguhan kepada anda dan kedua oran tua anda. Khususnya sang bapak, semoga diberikan hidayah dan pintu taubat atas segala kekhilafannya.

 

Kedua:

Meninggalkan perkara wajib dengan sengaja, apalagi termasuk rukun Islam seperti shalat dan puasa, merupakan kemungkaran sangat besar. Jika perkara-perkara tersebut ditinggalkan disertai pengingkaran terhadap kewajibannya, maka para ulama sepakat bahwa hal tersebut menyebabkan kekufuran. Adapun jika meninggalkannya karena malas dan enggan, sedangkan dia masih meyakini kewajibannya, dalam perkara selain shalat, para ulama menyatakan bahwa hal tersebut tidaklah kufur. Adapun dalam masalah shalat, jumhur ulama menyatakan bahwa dia tidak kufur, namun melakukan dosa yang sangat besar. Sebagian lagi berpendapat bahwa orang seperti itu dapat juga jatuh dalam kekufuran. Ini tak lain karena besar dan agungnya shalat. (Lihat Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, 27: 53-54)

 

Ketiga:

Jika seorang isteri mendapati suaminya tidak melakukan shalat, maka dia berkewajiban menasehatinya atau memintakan seseorang yang dia kenal kesalehannya untuk menasehatinya seraya terus mendoakannya agar dia mendapatkan hidayah untuk menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai muslim terutama shalat. Jika setelah sekian lama upaya tersebut tidak memberikan perubahan dan kondisi terus berlanjut, cukup baik kalau diambil sikap tegas dari seorang isteri bahwa dia tidak dapat mendampingi laki-laki yang tidak tunduk shalat, yaitu dengan minta diceraikan, atau mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Semoga hal itu dapat menyadarkan suaminya.

 

Keempat:

Sebagai anak, yang terpenting adalah menguatkan iman dan Islam sang ibunda dengan terus memotivasi dan mendekatkannya kepada ajaran Islam. Khususnya untuk menghadapi cobaan memiliki suami yang sangat rapuh iman dan Islamnya. Jika iman dan islamnya kuat, insya Allah dia dapat teguh menghadapi ujian tersebut dan bahkan diharapkan dapat mempengaruhi suaminya ke jalan hidayah.

 

Meminta sang ibunda untuk meminta cerai dari suaminya hendaknya tidak dilakukan sebagai langkah pertama, tapi langkah paling akhir jika berbagai jalan dan cara tidak membuahkan hasil. Jika ibu anda tetap menjaga aqidah dan Islamnya dengan baik dan mati dalam keadaan Islam, dia tidak akan terseret ke neraka oleh prilaku suaminya. Sebab, masing-masing orang mempertanggungjawabkan amalnya sendiri-sendiri dan  dosa tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain.

 

Firman Allah Taa’ala,

وَكُلّهمْ آتِيه يَوْم الْقِيَامَة فَرْدًا (سوة مريم:95)

“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (QS. Maryam: 95)

 

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى (سورة الزمر: 7)

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Az-Zumar: 7)

 

Kelima:

Apa yang anda lakukan dengan mengadukan prilaku bapak anda dengan maksud bertanya dan berkonsultasi tidaklah termasuk ghibah yang terlarang. Selama dilakukan dengan niat baik dan disampaikan kepada orang yang dipercaya tidak akan menyebarkan aib tersebut kemana. Adapun menyampaikan pertanyaan di media terbuka seperti ini, hendaknya dengan merahasikan nama anda dan kedua orang tua anda. Imam An-Nawawi menyebutkan beberapa bentuk ghibah yang dibolehkan, di antaranya adalah ‘al-istifta’ (meminta fatwa atau jawaban dari permasalah yang dihadapi)

 

Hindun binti Utbah radhiallahu ‘anha mengadukan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam prilaku suaminya yang tidak memberinya uang nafkah, maka Rasulullah shallallahu izinkan kepadanya untuk mengambil uang suaminya secukupnya (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua.

 

Wallahu a’lam

Wassalamu alaikum wr wb

Abdullah Haidir, Lc.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY