Ketika Suami Diusir Isteri

Ketika Suami Diusir Isteri

517
0
SHARE

Assalamualaikum..

Entah harus dari mana saya memulai nya.. saya seorang suami yang di usir istri saya dari rumah nya.. dan sekarang sdh hampir 4bln.. sudah tidak serumah.. pertanyaan saya apakah saya berdosa tidak menafkahi istri saya selama 3 bulan tersebut.. saya hanya menafkahi jika dia yang minta..itu pun karena dia hamil.. sekarang dia sudah melahirkan.. dan sekarang dia minta cerai setelah mengambil uang gaji saya selama 2 bulan..alasannya biaya melahirkan.. dan dia berkata hubungan kita putus.. dan saya tidak diizinkan bertemu anak saya.. apakah yang dilakukan nya
itu dosa.. dan apakah.. tindakan nya mengambil gaji saya itu bisa terkena pidana.. karena tanpa sepengetahuan saya.. terimakasih.. mohon
pencerahan nya..

 

 

Jawaban

Assalaamu alaikum wr wb

Bismillah walhamdulillahi. Washshalatu wassalamu ala Rasulillah. Amma Ba’du:

Alhamdulillah atas bilangan kenikmatan dari Allah swt. Sehingga dengan nikmat ini kita patut bersyukur walau bagaimanapun cobaan yang Allah swt berikan kepada kita. Bersabar dan bersyukur adalah sifat istimewa seorang mukmin dalam menjalani hidupnya.

1. Kasus Pengusiran.
Seorang istri mengusir suami dari rumah bisa dikenakan pasal pelanggaran “Nusyuz’ berumah tangga dalam Islam. Apapun alasannya seorang istri atau suami terikat dengan syariat islam ketika terjadi perselisihan.
Bahkan dalam konsep sudah terjadi perceraian saja, Allah swt melarang suami mengusir istri ataupun sebaliknya  istri mengusir suami dari tempat tinggal mereka berdua.
Jika terjadi demikian padahal belum terjadi perceraian maka istri bisa terkena pasal Nusyuz baik dalam UU Perkawinan di Indonesia juga dosa Nusyuz dalam Surat Annisa : ayat 34
Nusyuz dalam Islam adalah ketika suami ataupun istri terbukti melakukan kemaksiatan atau meninggalkan kewajiban sebagai suami atau istri. Dalil Nusyuz suami ada dalam surat annisa : ayat 128

2. Nafkah Istri dalam Islam.
Seorang suami (status belum bercerai) apapun kondisi istri maka wajib menafkahi anak dan istrinya seperti dalam Qs Albaqoroh : 233. Jika tidak dinafkahi maka suamipun bisa jadi akan terkena pasal dosa nusyuz karena meninggalkan kewajibannya. Untuk itu istri mengambil gaji suami sebatas untuk keperluan nafkah diri dan anaknya merupakan hal yang menjadi haknya. Kecuali di luar batas kewajaran dan menzalimi suaminya.

3. Ucapan istri mengatakan cerai tidaklah menjadi keputusan hukum terjadi perceraian kecuali melakukan gugatan cerai atau istilahnya khulu di pengadilan.

4. Mesti terjadi perceraian antara suami istri, namun anak tetaplah anak bersama. Tidak ada mantan anak. Selamaya ikatan dan hubungan antara orang tua (ayah ibu) dengan anak tidak boleh diputus dan dipisahkan. Anak punya hak penuh bertemu dan mendapatkan nafkah dari ayahnya.

 

Semoga Allah swt berikan jalan keluar dan anugerahkan kesabaran sehingga keutuhan rumah tangga akan terjaga selamanya.

Wallahu a’lam

Wassalamu alaikum wr wb

Nur Hamidah, Lc, MA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY