Posisi Makmum: Berdiri di Tengah Atau Bergabung Di Kiri?

Posisi Makmum: Berdiri di Tengah Atau Bergabung Di Kiri?

855
0
SHARE

Assalamualaikum Wr Wb
Saya sangat berterimakasih jika anda bisa bisa menjawab pertanyaan saya, saya sering sholat di masjid, tapi kadang saya suka terlambat, dan shaf sudah penuh dan dibelakang shaf sudah ada 1 orang jamaah, tetapi jamaah tersebut berada di sisi kiri, pertanyaan nya apakah saya harus bergabung disebelah jamaah tersebut agar terlihat rapi, atau harus di tengah tengah sesuai syariat islam tapi agak tidak rapi karena terlihat tercerai berai? selama ini saya ketika menghadapi keadaan seperti itu selalu memilih berdiri di tengah, tapi masih ada keraguan,
Sekian pertanyaan dari saya, barrakallah , semoga diskusi ini barokah untuk kita semua
Terimakasih
Wassalamualaikum Wr Wb

 

 

Jawaban

Assalaamu alaikum wr wb

Bismillah walhamdulillahi. Washshalatu wassalamu ala Rasulillah. Amma Ba’du:

Pertama:

Posisi makmum terhadap imam dalam shalat berjamaah ada beberapa kondisi. Jika imamnya laki-laki dan makmumnya laki-laki, jika makmumnya seorang diri, disunahkan makmum berada di sebelah kanan imam. Sedangkan jika makmumnya lebih dari satu orang, maka mereka berdiri di belakang imam dengan posisi imam berada di bagian tengah.

 

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir, dia berkata, “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu aku berdiri di sebelah kirinya, maka  beliau memegang tangan aku, kemudian menggeserku hingga aku berada di sebelah kanannya. Kemudian datang Jabbar bin Sakhr, lalu dia berwudhu dan kemudian dia berdiri di sebelah kiri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengambil tangan kami berdua lalu beliau menempatkan kami di belakangnya.” (HR. Muslim, shahih Muslim, no. 3014)

 

Adapun jika imamnya laki-laki, lalu makmumnya perempuan, maka makmum berada di belakang imam, baik sendiri atau lebih dari seorang. Jika ada makmum laki-laki, maka makmum perempuan berada di belakang makmum laki-laki.

Berdasarkan hadits riwayat Bukhari Muslim ketika Rasulullah shallallahu alaihi memenuhi undangan nenek Anas bin Malik; Mulaikah, lalu beliau shalat di rumahnya, Kemudian anas dan seorang anak yatim berdiri di belakangnya sebagai makmum, sedangkan sang nenek (juga menjadi makmum) berada di belakang mereka. (HR. Bukhari, Shahih Bukhari, no. 380, Muslim, Shahih Muslim, no. 658)

 

Imam An-Nawawi mengatakan, “Disunahkan menempatkan imam di tengah dan menyeimbangkan kedua sisinya.” (Al-Majmu, 4/192)

 

Kedua:

Berdasarkan kesimpulan di atas, jika barisan pertama makmum belum penuh, hendaknya dipenuhi dahulu. Jika sudah penuh, maka barisan berikutnya diawali dari belakang imam persis. Bukan dari sisi kanan atau kirinya. Di samping itu, barisan makmum disunahkan rapat tidak renggang.

Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

وَسِّطُوا الإِمَامَ , وَسُدُّوا الْخَلَلَ (رَوَاهُ أَبُو دَاوُد)

“Tempatkan imam di tengah, dan penuhi yang renggang.” (HR. Abu Daud)

Kasus yang anda alami cukup dilematis. Di satu sisi, jika anda ikut makmum yang menyendiri  di sebelah kiri imam, makaanda benar dari sisi merapatkan barisan, tapi menyalahi sunah karena tidak memposisikan imam di tengah. Sebaliknya jikaanda berdiri persis di belakang imam, jauh dari makmum yang tadi, anda benar dari sisi menempatkan imam di tengah, tapi meninggalkan sunah merapatkan barisan.

 

Hemat kami, sikap anda yang tetap berdiri di tengah lebih tepat, apalagi jika diperkirakan akan ada makmum lainnya yang akan menyusul. Agar berikutnya menjadi pelajaran dan kebiasaan bagi makmum lainnya untuk memulai barisan di belakang imam dari sisi tengah. Alangkah baiknya, jika anda sampaikan baik-baik kepada orang tersebut agar berikutnya jikamemulai shaf baru, hendaknya dimulai dari belakang imam bagian tengah. Selebihnya ini hanyalah perkara sunah.

 

Wallahu a’lam

Wassalamu alaikum wr wb

Abdullah Haidir, Lc

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY