Ragu dengan Gaji Sebagai Estimator

Ragu dengan Gaji Sebagai Estimator

416
0
SHARE

Assalamu’alaikum, saya merasa ragu dengan kehalalan gaji saya. langsung ke intinya, saya bekerja di kontraktor pelaksana kadang2 saya menjadi mandor sekaligus estimator. ketika saya menjadi mandor. misal pekerjaan pondasi di gambar rencana tingginya 120 cm saya di perintah atasan saya menjadi 50 cm lalu saya menyuruh para pekerja memasang pondasi tingginya 50 cm. dalam pekerjaan saya itu sudah jelas menyalahi aturan syarat dan teknis. karena pondasi tertanam di dalam tanah hal tersebut harus dilakukan karena tidak kelihatan, begitu pula dengan ukuran besi, campuran pelesteran atau beton, dan kualitas bahan. alasannya bos saya kalau tidak seperti itu perusahaan rugi. dan saya juga membuat berita acara tambah kurang di mana saya memasukkan data sesuai gambar rencana bukan sesuai kondisi nyata di lapangan.

Saya merasa gaji yang saya terima tidak berkah/haram karena yang saya lakukan sama saja sebagai fasilitator bos saya untuk korupsi. walaupun saya tidak menerima hasilnya secara langsung, tetapi dana yang cair jg di gunakan untuk menggaji bulanan saya. saya merasa ragu dan tidak tenang ketika terpikirkan hal tersebut. karena gaji yang saya peroleh juga saya berikan untuk orang tua dan adik saya. terkadang saya merasa bersalah memberikan gaji itu. karena saya ragu gaji yang saya terima  halal atau haram. Demikian pertanyaan dari saya. saya sangat mengahrapkan jawaban yang anda berikan.

Jawaban

Assalamu alaikum wr.wb.

Alhamdulillahi Rabbil alamin. Ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbihi. Amma ba’du:

Amanah adalah salah satu syarat utama dalam dunia usaha. Hilangnya amanah akan hilang kepercayaan, hilang pula keberkahan, justeru dapat berganti kerugian, di dunia ataupun di akhirat. Walau terkesan mendatangkan keuntungan materi sesaat.

Apa yang dilakukan atasan anda jelas merupakan manipulasi dan pelanggaran. Bahkan dalam ketentuan umum yang berlaku dalam dunia usaha sekalipun perkara tersebut tidak dibenarkan dan dapat diajukan gugatan, apalagi berdasarkan panduan ajaran syariat.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنَّا (رواه الترمذي)

“Siapa yang menipu bukanlah golongan kami.” (HR. Tirmizi)

الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ  (رواه أبو داود والبيهقي والدارقطني)

“Kaum muslimin harus memenuhi syarat-syarat mereka (yang telah disepakati).” (HR. Abu Daud, Baihaqi dan Ad-Daruquthni)

Adapun anda sebagai pegawainya, jika anda tahu dengan pasti adanya manipulasi tersebut, maka anda harus menolaknya dan tidak boleh terlibat langsung di dalamnya. Anda dapat meyampaikan langsung kepada atasan anda dan menasehatinya dengan baik. Atau anda langsung menolak perintah atasan anda, jika jelas hal itu melanggar, karena tidak ada ketaatan dalam perbuatan maksiat. Allah melarang kita saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Maka, orang yang membantu sebuah perbuatan kemungkaran, mendapatkan dosa dari perbuatan kemungkaran tersebut, walau bukan dia pelaku utamanya.

Allah Taala berfirman,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ  (سورة المائدة: 2)

“Dan hendaklah kalian saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah keras hukumannya.” (QS. Al-Maidah: 2)

Jika tidak ada perubahan juga, maka meninggalkan tempat tersebut lebih baik bagi keselamatan anda, baik di dunia maupun di akhirat. Diriwayatkan, “Apa yang ditinggalkan karena Allah, maka Allah akan ganti dengan yang lebih baik darinya.”

Semoga Allah teguhkan anda di jalanNya dan jauhkan dari harta yang haram serta ganti yang lebih baik dan bersumber dari perkara yang halal.

Wallahu a’lam.

 

Abdullah Haidir, Lc.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY