Anda di halaman: Home

GHARAR DALAM FIQIH MUAMALAH (REALITA DAN SOLUSI)

Oleh: Iman Santoso, Lc, M.E.I

MUQADDIMAH

Ekonomi dan bisnis merupakan pilar utama dalam kehidupan umat manusia. Bagi umat Islam bisnis adalah bagian dari ibadah sehingga tujuannya bukan sekedar mendapatkan uang dan keuntungan, lebih dari itu beribadah dalam rangka mencari keridhaan Allah. Sehingga semua bisnis yang dilakuakan umat Islam sejatinya harus dilandasi oleh nilai dan ajaran Islam. Tanpa landasan nilai dan ajaran Islam, maka mereka akan terjatuh pada sikap dan prilaku menghalalkan cara untuk meraih harta dan kekayaan (hedonisme). Suatu sikap dan prilaku orang-orang kafir. Tapi inilah realita yang menimpa sebagian umat Islam, yaitu jatuh pada sikap dan prilaku menghalalkan cara.

Sebab utama sebagian umat Islam yang jatuh pada prilaku menghalalkan cara  khususnya dalam mencari harta adalah pola pikir materalisme atau cinta dunia yang berlebihan. Inilah penyakit kronis yang menimpa umat sebagaimana pernah diprediksi oleh Rasulullah saw. lebih dari empat belas abad yang lalu. ” Hampir saja bangsa-bangsa mengepung kalian, sebagaimana orang lapar mengepung tempat makanan. Berkata seorang sahabat, “ Apakah karena kita sedikit pada saat itu ? Rasul saw. bersabda,” Bahkan kalian pada saat itu banyak, tetapi kalian seperti buih, seperti buih lautan. Allah akan mencabut dari hati musuh kalian rasa takut pada kalian. Dan Allah memasukkan ke dalam hati kalian Wahn. Berkata seorang sahabat,” Apakah Wahn itu wahai Rasulullah saw ? Rasul saw, bersabda, “Cinta dunia dan takut mati” (HR Abu Dawud)

Sedangkan penyakit umat Islam lain yang menyebabkan mereka jatuh pada bisnis yang diharamkan adalah jahlul muslimin ‘anil Islam (kebodohan umat Islam dari ajaran Islam). Termasuk kebodohan dalam muamalah. Telah diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra. suatu hari beliau berkeliling pasar dan memukul beberapa pedagang dengan tongkat dan  berkata:

لا يبع في سوقنا إلا من يفقه، وإلا أكل الربا، شاء أم أبى.

Tidak boleh berdagang di pasar kami kecuali orang yang  faqih (maksudnya memahmi fiqih Muamalah). Karena jika tidak berilmu, maka bisa jadi makan riba’ baik disengaja atau tidak”

Disinilah pentingnya umat Islam memahami etika, nilai dan moral sesuai Islam. Sehingga bisnis yang dilakukan benar-benar dilandasi ajaran Islam. Dengan demikian akan melahirkan kebaikan dan kerberkahan dalam hidupnya. Dalam buku Peran dan Moral dalam Perekonomian Islam[1], Yusuf Qaradhawi menjelaskan betapa pentingnya peran dan moral dalam bisnis. Beliau membagi pada empat bagian; nilai dan moral dalam bidang produksi, konsumsi, sirkulasi dan  distribusi.

Jika etika dan nilai dalam bisnis membahas prnsip-prinsip dasar, kaidah-kaidah umum, maka untuk membahas sesuatu yang detail, tentang hukum rincian dalam bisnis dan ekonomi maka umat Islam harus memahami Fiqih Muamalah. Dalam kitab Fiqih Muamalah atau kitab Buyu’ dibahas seluruh yang terkait dengan bisnis,  bisnis yang halal maupun yang haram. Walaupun secara umum para ulama menyebutkan bahwa prinsip dasar adalah halal. Namun tidak dipungkiri ada banyak bisnis yang diharamkan dalam Islam. Oleh karena itu bab riba’ masuk dalam bab Fiqih Muamalah atau Buyu’.  Bahkan riba’adalah dosa paling besar dalam muamalah atau berbisnis.

Selain riba’, ada jenis  lain yang diharamkan dalam muamalah yaitu gharar. Dan gharar ini banyak masuk dalam berbagai bentuk bisnis. Oleh karena itu  sangat penting untuk mengetahui makna gharar, batasanya dan ruang lingkupnya.  Rasulullah saw. menjelaskan keharaman gharar, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Said dan Anas:

أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ"نَهَى عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ"

” Rasulullah Saw. melarang bisnis manipulatif (bay’ul gharar)” (HR Muslim, Ibnu Majah, Abu Dawud, At-Tirmidzi).

Imam An-Nawawi menyebutkan:” hadits ini merupakan garis  besar dari prinsip-prinsip bab Bisnis, dimana didalamnya masuk banyak sekali dan bahkan tidak terbilang dalam berbagai masalah bisnis”[2].

 

PEMBAHASAN MASALAH

  1. Dalam makalah ini akan membahas masalah Gharar  dalam Fiqih Muamlah
  2. Definisi, Macam-Macam Gharar dan hukumnya
  3. Beberapa contoh gharar baik pada shighot aqad maupun pada obyek aqad
  4. Realita bisnis gharar dan solusinya
  5. Kesimpulan dan penutup.

 

DEFINISI GHARAR

Definisi gharar secara bahasa  adalah bahaya, dan taghrir yaitu membawa diri pada sesuatu yang membahayakan[3]. Makna  secara istilah fiqih gharar mempunyai tiga definisi. Pertama, gharar khusus berlaku pada sesuatu yang hasilnya tidak jelas, dapat atau tidak dapat, sebagaimana ungkapan Ibnu ‘Abidin, Gharar adalah syak atau keraguan pada apakah komoditi tersebut ada atau tidak ada. Kedua, gharar khusus pada komoditi  yang tidak diketahui spesifikasinya. Berkata Ibnu Hazm, gharar pada bisnis yaitu sesuatu dimana pembeli  tidak tahu apa yang dibeli, atau pedagang tidak tahu apa yang dijual. Ketiga, gharar mengandung dua makna tersebut diatas. Berkata As-Sarhsy,” Gharar adalah sesuatu yang aqibatnya tidak jelas. Pendapat  ini yang diyakini oleh mayoritas ulama[4].

Dari sisi lain gharar juga ada yang kadarnya sedikit, sedang dan berat. Oleh karena itu sebagian ulama mendefinisikan gharar yaitu sesuatu yang diyakini adanya, tetapi  diragukan  kesempurnaannya (Mukhtar Shihah). Contoh-contoh berikut termasuk gharar dari sisi ini: Menjual buah sebelum layak di petik, menjual janin pada induknya, menjual ikan pada tempat pemancingan atau kolam ikan dengan cara dipancing atau dijaring dll.

 

MACAM-MACAM GHARAR

Bisnis gharar dapat dibagi menjadi dua bagian, pertama; gharar pada shighot transaksi (akad), kedua; gharar pada  mahalul aqad (obyek aqad), yaitu komoditi dan harganya.

Gharar pada shighot yaitu bahwa aqad terjadi dengan kriteria yang mengandung unsur gharar. Gharar bentuk ini berhubungan langsung dengan aqad bukan dengan komoditi. Misalnya, jika seseorang mengatakan pada temannya,” Saya jual rumahku padamu seharga Rp. 250.000.000250.000.000,  Jika ada orang yang akan menjual tanahnya kepadaku ”. Dan berkata temannya, “ Saya terima”. Maka disini ada unsur gharar terkait aqad, karena akhirnya tidak diketahui apakah kedua pedagang dan pembeli itu akan terjadi transaksi jual beli atau tidak. Maka jumhur ulama mengharamkan bentuk bisnis seperti ini.  Unsur gharar pada jenis bisnis ini karena kedua belah pihak baik penjual maupun pembeli tidak mengetahui apakah hal yang disyaratkan terpenuhi atau tidak, sehingga tidak mengetahui apakah jual-beli ini jadi atau tidak. Juga tidak jelas dari segi waktunya, kapan transaksi tersebut terjadi. Begitu juga dari segi suka atau tidak suka, terkadang pembeli pada saat itu ingin membeli, tetapi pada waktu yang lain sudah tidak suka dan membutuhkan lagi.

Kedua, gharar dari sisi obyek aqad, bentuk ini lebih buruk lagi karena tidak jelas komoditi dan harga, jenis, sifat dan ukurannyanya. Jika salah satu dari keempat hal tadi tidak diketahui maka sudah termasuk gharar. Contoh, tidak jelas komoditi; saya jual barang padamu sepuluh juta. Contoh tidak mengetahui jenis; saya jual beras (tanpa menyebutkan jenisnya) seharga 50 ribu. Contoh, tidak mengetahui sifatnya; saya jual padamu beras (tanpa menyebutkan sifat atau kualitas) seharga seratus ribu. Contoh, tidak mengetahui beratnya; saya jual padamu beras (tanpa menyebutkan berat). Tetapi jika komoditinya terlihat, maka menurut madzhab Hanafi boleh menjualnya tanpa menyebutkan 4 hal tersebut.   Contah lain, menjual binatang yang masih dalam perut induknya, menjual hasil bumi yang masih diperut bumi dan tidak kelihatan, seperti kentang, bawang, ubi dll. Madzhab Hanafi membolehkan jual-beli seperti ini dengan syarat adanya hak melihat dan hak memilih  (jadi atau tidaknya) jika sudah dipanen.

 

GHARAR PADA  AQAD

Bisnis yang mengandung gharar pada aqad banyak  sekali, di bawah ini beberapa conotohnya:

  1. Bay’atani Fi Bay’ah ( Dua Akad Penjualan  dalam satu jual beli)

Bisnis dengan sistem bisnis ini  diharamkan berdasarkan hadits rasulullah saw. :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ض قَالَ { نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ } رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَلِأَبِي دَاوُد

“ Dari Abu Hurairah  ra. berkata, Rasulullah saw. melarang dua aqad  dalam satu jual beli” (HR Ahmad, Nasa’I, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Abu Dawud)

Para ulama sepakat mengharamkan bentuk jual beli ini, namun berbeda pendapat dalam menafsirkan atau menjelaskan bentuk jual beli seperti ini.  Dan yang di haramkan oleh jumhur ulama adalah jika dalam satu aqad mengandung dua penjualan, seperti saya jual barang ini seribu kontan dan seribu dua ratus kredit dalam waktu satu tahun. Lalu pembeli mengatakan saya terima, tanpa menjelaskan bahwa dia membeli yang kontan atau yang kredit. Kemudian keduanya berpisah. Maka inilah cara yang diharamkan sebagaimana hadits diatas. Tafsir kedua yang diharamkan seperti saya jual rumahku padamu dengan syarat engkau menjual mobilmu padaku”.

Adapun jika penjual mengatakan saya jual barang ini satu juta kontan, dan satu juta dua ratus ribu kredit dalam  waktu setahun. Kemudian pembeli memilih salah satunya, maka dibolehkan oleh para ulama[5]

Sebab larangan disini adalah gharar pada aqad, karena tidak tahu jenis aqad mana yang diambil. Sedangkan pada bentuk tafsir kedua tidak tahu apakah akad terjadi atau tidak. Maka keduanya mengandung gharar.

  1. Bayul ‘Urbun

Bay’ul Urbun atau Urban adalah uang muka yang hangus akibat tidak jadi membeli barang. Jika jadi membeli maka uang muka tersebut menjadi sebagian pembayaran. Hadits terkait dengan bay’ul urbun adalah:

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ قَالَ : { نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْعُرْبَانِ }

 

Dari Amru Bin Syu’aib berkata, “ Rasulullah saw melarang bayul Urban” (HR Malik)

Jumhur ulama mengharamkan jual beli seperti ini karena ada unsur gharar tetapi imam Ahmad dan ulama yang lain membolehkannya[6]. Jalan tengahnya maka penjual dapat mengambil sebagian uang muka sebagai konpensasi atas kerugian waktu dll yang ia lakukan, dan ini dilakukan setelah pemberitahuan.

  1. Bay’ul Hashoh, Mulamasah dan Munabadzah

Bay’ul Hashoh, Mulamasah dan Munabadzah diharamkan berdasarkan hadits Nabi saw:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ { : نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ ، وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

" Dari abu Hurairah ra. berkata, “Rasulullah saw melarang bay’ul hashoh dan bay’ul gharar” (HR Muslim)[7]

Diantara bentuk gharar pada transaksi adalah: Ba’yul Hashoh yaitu kedua penjual dan pembeli sepakat untuk transaksi berdasarkan batu yang dilempar, atau batu tersebut diletakkan pada komoditi. Bay’ul Mulamasah, yaitu jika calon pembeli memegang komoditi tersebut, maka wajib membelinya. Bay’ul Munabadzah, yaitu jika dagangan tersebut dilemparkan pada seseorang atau diletakkan pada seseorang maka ia wajib membelinya. Para ulama mengharamkan jenis bisnis  tersebut, karena sama dengan qimar atau judi.

 

GHARAR PADA OBYEK AQAD

Bisnis yang mengandung gharar pada obyek aqad sangat banyak, dibawah ini beberapa bisnis yang mengandung gharar pada obyek aqad baik komoditi maupun harganya.

  1. Bayul Ma’dum

Para ulama mengharamkan bay’ul ma’dum yaitu ketika terjadi aqad tidak ada komoditinya dan keberadaannya tidak jelas pada waktu yang akan datang. Maka bisnis ini batil. Beberapa contoh Bay’ul ma’dum menjual anak binatang pada binatang yang belum ketahuan hamil, menjual buah pada pohon buah yang belum ketahuan tumbuh buahnya. Adapun Salam dan Istishna dibolehkan oleh para ulama karena tidak termasuk bay’ul madum dan tidak menimbulkan gharar.

Dalam bentuk bisnis modern ada yang disebut Future Trading atau dalam Arab Bay’ul Asyaa Mustaqbalah bahasa fiqihnya adalah Ba’yul Ma’dum dimana mayoritas fuqaha mengaharamkan. Tetapi pendapat yang kuat adalah bisnis seperti ini asalnya halal, menjadi haram jika mengandung unsur gharar. Bisnis ini menjadi boleh jika memiliki kualifikasi bisnis Salam. Salam atau Salaf adalah bisnis dengan komoditinya belum ada tetapi memiliki kualifikasi jelas dengan harga tunai. Disebutkan dalam hadits dari Ibnu Abbas, berkata : “Rasulullah Saw. Datang ke Madinah dan penduduknya melakukan transaksi Salaf (Salam)  pada tanaman setahun dan dua tahun. Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa melakukan salaf pada tanaman, maka lakukanlah dengan takaran yang diketahui, timbangan yang dikethui dan waktu yang diketahui” (Muttafaqun ‘alaihi).

Future Trading atau Future Komoditi, yaitu; jual beli dengan pembayaran harga yang disepakati secara tunai, sedang penyerahan barangnya ditangguhkan pada waktu yang dijanjikan oleh penjual dan disetujui pembeli (jatuh tempo). Dalam akad Salam harga sudah final/tetap, tidak dikenal padanya penambahan, kenaikan ataupun penurunan.

Dalam Future Trading disamping ada orang yang motivasinya membeli barang, tetapi banyak juga yang motivasinya bukan membeli barang tetapi melihat fluktuasi harga. Saat harga barang tinggi maka ia melepas surat tanda kepemilikan barang, dan jika harga rendah maka ia tahan. Dan begitulah berpindah-pindah dari satu orang ke-orang lain menjual surat berharga tersebut tanpa mengetahui barangnya. Unsur penambahan/kenaikan harga atau  penurunan/pengurangan harga setelah transaksi dan pembayaran dilunasi disebut capital again. Unsur penambahan atau pengurangan ini mengandung karakter gambling (maysir), baik perusahaan yang untung atau merugi, hukum maysir/qimar adalah haram.

Jelasnya, dalam future trading target pembeli adalah bergambling (qimar/maysir) dengan naik turunnya harga barang yang ditentukan oleh pasar, dan bukan barang itu sendiri yang menjadi target pembeli. Kemudian, hal yang tidak diterima pula oleh Syariat adalah pembeli menjual kembali barang yang belum ia terima kepada pembeli  kedua atau orang lain.

Bisnis Future Trading dan Bursa Komoditi mengandung banyak sekali cacat secara Syariah. Diantaranya penjual tidak disyaratkan memiliki barang tersebut, tetapi cukup dengan komitmen menyerahkan komoditi tersebut pada waktu tertentu, jika diminta pembeli. Bisnis ini juga tidak mensyaratkan memberikan harga semuanya secara tunai sebagaimana bisnis Salam, tetapi hanya membayar sebagaian saja, misalnya 20 %. Oleh karena itu Future Trading  tidak memenuhi syarat bisnis Salam.

2.      Bisnis Komoditi  yang Tidak Dimiliki

Diantara bentuk bisnis yang berkembang sekarang adalah menjual barang yang tidak dimilikinya.

لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

Janganlah engkau menjual apa yang tidak ada padamu !” (HR. Abu Dawud No. 3503).

Fiqih Islam melarang orang menjual barang yang tidak dimilikinya saat transaksi. Disebutkan dalam Khasyiah Ibnu Abidin:” Diantara syarat bisnis adalah komoditinya dimiliki sendiri oleh penjual saat menjual. Dan tidak sah menjual komoditi yang tidak dimiliki, sekalipun akan dimiliki setelah itu” (Nailul Authar). Berkata Ibnu Qudamah:” Kami tidak melihat masalah (pengharaman ini) diperselisihkan oleh ulama” (Al-Mughni 4/206).

Alasan atau illat pengharaman ini adalah karena terdapat gharar yang jelas dimana komoditi yang dijual tidak dapat diterima saat transaksi. Fiqih Islam mengecualikan bisnis Salam karena terdapat hadits yang membolehkannya dan tidak terdapat unsur gharar, juga karena spefikasinya telah disebutkan secara jelas.  Dan jatuh tempo yang dijanjikan komoditi tersebut ada.

 

  1. 3. Money Game

Gharar dapat masuk pada semua usaha dan bisnis modern, sehingga umat Islam ketika akan terjun ke bidang usaha harus menguasai ilmunya. Jangan sampai terperosok pada sesuatu yang diharamkan Allah. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab ra. Berkeliling ke pasar dan memukul sebagian pedagang dengan rotan dan berkata:” Tidak boleh berbisnis di pasar kami kecuali yang memahami. Jika tidak, maka ia akan makan riba’ secara sukarela atau tidak “. Rasulullah Saw. Bersabda:” Mencari harta yang halal adalah wajib bagi setiap muslim” (HR At-Thabrani).

Diantara bentuk bisnis yang diharamkan adalah money game. Money Game sebenarnya lebih dekat pada maisir dari pada bisnis. Namun yang sebenarnya adalah manipulasi dalam bisnis, karena  yang terjadi hanyalah putaran dana atau arisan berantai tanpa ada komoditinya. Kalaupun komoditi tersebut ada, tidak sesuai dengan size dan atau besaran putaran dananya.  Dalam berbisnis harus mengikuti standar umum dan tidak boleh hanya bersandar pada tsiqoh (percaya) tanpa mengetahui akad, komoditi dan bentuk bisnis yang dilakukan. Dan seorang muslim tidak boleh mengambil keuntungan dari usaha yang tidak jelas atau mengandung unsur jahalah. Karena jahalah bagian dari gharar dalam binis  yang diharamkan Allah. Allah Swt berfirman, artinya: “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya”(QS ‘Abasa 24).

PENUTUP

Dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa larangan gharar sebagaimana disebutkan dalam hadits, mengandung konsekwensi hukum sbb:

  1. Diharamkannya bay’ul  gharar, karena bentuk larangan secara umum menunjukkan pengharaman sebagaimana pendapat yang diyakini ahli ushul.
  2. Cacat, rusak atau tidak sahnya aqad dalam bisnis gharar ini, yaitu bisnis ini tidak berpengaruh pada kepemilikan barang bagi se pembeli dan kepemilikan uang bagi si penjual sebagaimana yang diyakini oleh jumhur ulama.
  3. Pengharaman bisnis dan cacatnya aqad mencakup pada umumnya semua jenis bisnis yang mengandung gharar.

Demikian kesimpulan tentang  gharar dalam Fiqih Muamalah. Wallahu A'lam Bishawaab

REFRENSI

  1. Al-Gharar fil ‘Uqud – Dr. As-Shadiq Muhammad Al-Amin
  2. Subulus Salam syarh Bulughul Maram – Muhammad bin Ismail As-Shan’ani
  3. Sharh shahih Muslim imam An-Nawawi
  4. Lisanul Arab, Al-Qamus al-Muhith dan al-Misbah al-Munir
  5. Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam – Yusuf Qaradhawi
  6. Wabsite seperti: mtaufiknt.wordpress.com dll.

 


[1] . Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam – Yusuf Qarahadawi

[2] . Sharh shahih Muslim imam An-Nawawi 10/157

[3] Lisanul Arab, Al-Qamus al-Muhith dan al-Misbah al-Munir

[4] . Al-Ghoror fil ‘Uqud- Dr. Ash-Shadiq Muhammad Al-Amin

[5] . Lihat Subulus Salam 4/95

[6] Ibid hal 99

[7] Ibid hal 89

 
Banner

Visitor

Hari ini1
Kemarin1
Minggu ini1
Bulan ini21
Keseluruhan2975664

Terdapat 71 pengunjung online

Banner