Anda di halaman: Home Masalah Umum Seputar Pertentangan Ikhwanul Muslimin Dan Salafiah

Seputar Pertentangan Ikhwanul Muslimin Dan Salafiah

Denny kurniawan

Bagaimana pendapat ustadz mengenai statement dari ulama salafi mengenai kebid‘ahan harokah ikhwanul muslimin dan memasukkannya kedlm 72 golongan yang sesat, bagaimana jawaban ustadz yang syar‘i mangenai hal ini ana mohon sejelas-jelasnya agar ana tidak kebingungan. Syukron

Assalamualaikum wr. wb. Sebelum menjawab pertanyaan anda, perlu terlebih dahulu dikonfirmasi ulang, siapakah ulama salafi yang anda maksudkan itu? Dalam konteks apa dia berfatwa? Apakah pendapatnya itu benar-benar mewakili jumhur ulama salafi atau merupakan pendapat pribadi? Alangkah baiknya bila anda dapat memberikan rujukan literatur yang kuat. Mengenai bid‘ah yang banyak diperdebatkan, memang bila kita melihat dari satu sudut pandang, maka akan nampak bahwa semua hal itu menjadi bid‘ah dan sesat semua. Dan yang benar hanya kelompoknya saja. Padahal bila ada keterbukaan dan dialog yang baik antar para ulama dan pemimpin umat, tidak perlu ada saling menuduh temannya sebagai ahli bid‘ah atau saling menyesatkan satu sama lain.

Yang wajib dikerjakan oleh umat ini adalah “tawashau bil haq” dan ‘tawashau bish-shobr’. Bukan saling ejek dan saling hujat, apalagi saling menuding bahwa kelompok lain pasti masuk neraka dan hanya kelompok saya yang punya kapling di surga. Toh orang yang kita hujat itu belum tentu paham dengan apa yang kita maksud, sehingga mengharapkanya berubah menjadi sangat tidak relevan. Bukankah yang lebih bijak tindakan kepada saudara kita yang menurut pandangan kita kurang sesuai dengan ajaran Islam, adalah dengan melakukan pendekatan pribadi secara baik-baik. Para ulama salaf sendiri sejak dulu mengajarkan bagaimana adab berbeda pendapat. Kita tidak pernah mendengar mereka saling mengkafirkan atau saling menuding temannya sebagai ahli bid‘ah. Memang ada beberapa gelintir ulama terdahulu yang terbiasa menggunakan bahasa yang terlalu gamblang, tetapi toh mereka itu bukan satu-satunya panutan, apalagi bila melihat kapasitas mereka dan kondisi sosialnya, barangkali bisa dijadikan suatu pengecualian.

Tapi di masa kini, dimana sangat jarang lagi kita dapati para ulama dengan kapasitas dan kualitas seperti di zaman dahulu, rasanya tidak layak lagi menggunakan bahasa-bahasa yang terkesan melecehkan dan menjatuhkan. Bahasa yang digunakan para ulama dalam menanggapi ‘lawan’nya umumnya sangat santun. “Pendapatku ini benar namun ihtimal (ada kemungkinan) mengandung kesalahan. Sedangkan pendapat dia itu salah tetapi ihtimal (ada kemungkinan) mengandung kebenaran.” Ini adalah bahasa pergaulan para ulama salaf dahulu yang umum digunakan. Bahasa yang kasar dan keras biasanya hanya mereka arahkan kepada orang-orang yang secara jelas ingkar kepada Allah serta para zindiq yang menelikung dari dalam. Dan nampaknya kurang relevan pada hari ini untuk menggunakan bahasa sarkasme seperti itu. Karena dari begitu banyak jamaah Islam pada hari ini belum satu pun yang sempurna benar. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan.

Wallahu a‘lam bishshowab. Wassalamualaikum wr. wb.

 

 

MP3 Ceramah

Manajemen waktu

Banner

Visitor

Hari ini3784
Kemarin3607
Minggu ini14316
Bulan ini105815
Keseluruhan615768

Terdapat 36 pengunjung online