Anda di halaman: Home Masalah Umum Tidak Memberi kepada Peminta-minta

Tidak Memberi kepada Peminta-minta


Assalamualaikum Ustadz
Dikantor saya hampir setiap hari ada anak-anak yang mengaku dari panti asuhan atau orang-orang yang datang meminta shadaqah, tapi menurut beberapa teman kantor saya sebagian besar dari mereka itu sebenarnya adalah_maaf_"penipu" yang dikoordinir, itu sudah pernah mereka selidiki. Sejak itu setiap ada orang yang tidak jelas meminta shadaqah saya tidak pernah memberi (walaupun sebenarnya saya ingin), tapi setiap yang datang itu saya catat, dan uang yang sedianya ingin saya berikan saya simpan dan kumpulkan. Jika sudah terkumpul lumayan banyak kemudian saya serahkan kepada Badan Amil Zakat dan Shadaqah yang insyaallah terpercaya menurut saya. Ini saya lakukan karena tidak ingin shadaqah atau infaq saya salah sasaran. Bagaimana cara yang saya lakukan, apa diperbolehkan dalam agama?
Terimakasih, wassalam

 

Assalamu alaikum wr.wb.

Kondisi Anda di atas juga dialami oleh banyak orang. Mereka merasa bingung dan ragu dalam memberi kepada peminta-minta yang datang karena khawatir salah sasaran dan dimanfaatkan.
Dalam hal ini ada sejumlah hal yang perlu dipahami:
1. Memberi kepada peminta-minta, entah yang mengaku dari panti asuhan atau dari tempat lainnya, jika dilakukan dengan tulus dan ikhlas, insya Allah akan mendapat pahala dari Allah Swt sesuai dengan niatnya meskipun ternyata ia tertipu karena memberi kepada orang yang sebenarnya mampu dst. Rasul saw bersabda, "Segala amal perbuatan bergantung kepada niatnya."
2. Namun menjadi lebih baik kalau niat yang ikhlas dalam memberi disertai dengan kecermatan dalam melihat orang yang diberi. Sebab, pada masa kini meminta-minta sudah menjadi lahan pekerjaan dan dikordinir sedemikian rupa; bukan karena kebutuhan mendesak. Padahal Rasul saw mengancam pekerjaan meminta-minta yang tidak didasarkan pada kebutuhan mendesak. "Meminta tidak boleh kecuali untuk tiga orang: (1) yang benar-benar fakir (2) yang terkena denda berat (3) yang harus membayar tebusan besar." Dalam hadits Tirmidzi Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang membuka pintu meminta-minta bagi dirinya, Allah buka tujuh puluh pintu kefakiran untuknya."
Karena itu, memberi kepada orang yang menjadikan pekerjaan meminta-minta sebagai profesi; bukan karena kebutuhan mendesak, tidaklah dibenarkan karena sama sekali tidak mendidik dan lebih banyak mendatangkan mudharat.
3. Cara untuk membedakan mana yang meminta karena kebutuhan dan mana yang memang terpaksa adalah di antaranya dengan mengetahui identitas si peminta-minta, dengan melihat kekuatan fisiknya, menelusuri rumah dan tempat tinggalnya, atau gerak-geriknya. Jika masih sulit juga untuk membedakan memang sebaiknya diserahkan kepada lembaga sosial yang amanah untuk menyalurkan kepada mereka yang membutuhkan.
4. Bantuan tidak harus berupa uang; tetapi bisa diberikan dalam bentuk barang yang lebih dibutuhkan atau sarana yang lebih bermanfaat.
Kesimpulannya, ketika seseorang didatang oleh orang yang meminta bantuan, ia bisa memberi dan bisa pula tidak memberi sesuai dengan kondisi pihak yang meminta, serta sesuai dengan niat dan kemampuan pihak yang diminta.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum wr.wb.

 

MP3 Ceramah

Manajemen waktu

Teknisi

Banner
CALL CENTER/OFFICE:
021-8575426

Visitor

Hari ini1659
Kemarin3104
Minggu ini4763
Bulan ini77154
Keseluruhan586931

Terdapat 71 pengunjung online