Anda di halaman: Home Muamalat Hukum Menerima Dana Tunjangan

Hukum Menerima Dana Tunjangan

Assalamualaikum Wr. WbSaya seorang dokter umum PNS di sebuah RSUD. Selama ini saya sudah menerima gaji sebagai PNS, tunjangan fungsional serta jasa medis setiap bulannya. Sejak 2 tahun terakhir, direktur RSUD mengajukan ke bupati agar semua dokter baik dokter spesialis maupun dokter umum diberi insentif atau uang duduk setiap bulan, dokter spesialis 10 juta/ bulan dan dokter umum 1 juta / bln. Oleh bupati disetujui dan dituangkan dalam peraturan bupati. Uang insentif ini hanya diberikan kepada para dokter saja, sedangkan karyawan yang lain tidak dengan dalih sebagai tenaga langka. Hal ini tentu mengandung unsur ketidak adilan. Selama ini saya ragu untuk menerimanya, karena tanpa susah payah, tanpa mengeluarkan keringat bahkan hanya duduk duduk saja kita menerima uang yang berasal dari rakyat. Uang tersebut diterima baik oleh dokter yang baru maupun yang sudah lama bekerja, baik yang rajin maupun yang ber malas-malasan. Yang ingin saya tanyakan, bagaimanakah hukum uang insentif tersebut secara Syariah ? karena kita sudah dapat gaji bulanan, tunjangan, jasa pelayanan sesuai beban kerja . Saya ingin rezeki yang saya terima benar-benar halalan thoyyibah sehingga barokah. Terima kasih sebelumnya. Wassalamualaikum Wr.Wb.

 

 

Jawaban

Assalamu alaikum wr.wb.

Alhamdulillahi Rabbil alamin. Ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbihi. Amma ba'du:

Kami mengapresiasi upaya Anda mendapatkan rejeki yang halal yang akan membawa keberkahan. Kalau secara legal formal, tidak ada masalah, selama dituangkan dalam sk bupati. Sedangkan secara syariah perlu mendapatkan pembahasan.

Allah berfirman dlm surat 2: 188:

"Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui."

Nah, apakah harta tersebut masuk harta yang diperoleh dengan cara batil atau tidak ? Menurut hemat saya kalau secara hukum, sah atau boleh saja. Karena memang bisa disebut sebagai apresiasi untuk dokter, supaya betah ketika  duduk dan bertugas.

Kalau Anda merasa tidak nyaman, itu terkait masalah kepatutan atau keutamaan. Jadi sifatnya afdholiyah bukan halal haram.

Karenanya, jika Anda salurkan harta itu kepada kaum dhuafa atau kegiatan sosial akan lebih bagus untuk mengamalkan hadits

دع ما يريبك الى ما لا يريبك 
"Tinggalkan sesuatu yang membuatmu ragu menuju sesuatu yang tidak membuatmu ragu."

Wallahu a'lam

Wassalamuu alaikum wr wb

Iman Santoso, Lc, MA

 
Banner

Visitor

Hari ini181
Kemarin963
Minggu ini2786
Bulan ini14969
Keseluruhan2927860

Terdapat 20 pengunjung online

Banner