Anda di halaman: Home Warisan Rumah Waris

Rumah Waris

Djoen

Pertanyaan:

Dalam sebuah keluarga si ayah sudah meninggal, sebelum meninggal pernah berkeinginan berhaji dengan menjual rumah (rumah tsb tidak ditinggali oleh keluraga/dikontrakan). Dalam musyarawah keluarga, ditawarkan kepada semua anak yang berminat membeli rumah tsb. Akhirnya dibeli anak ke-4 dengan dibawah harga pasar atas perstujuan seluruh anak2nya. Uang hasil pembelian tsb digunakan oleh ibunda untuk pergi haji (ayah sudah dihajikan secara badal). pertanyaan: 1 apakah rumah tbs berstatus rumah waris? 2. sah kah jual beli yang dilakukan oleh anak nya tsb? 3. Adakah hak ahli waris yang dilanggar dari jual beli tsb?

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

Ada hal-hal yang perlu diperjelas kedudukan dan statusnya sebelum kita mengkaji masalah ini lebih dalam. Pertama, masalah keinginan berhaji sang ayah sebelum meninggal yaitu dengan menjual rumahnya. Apakah keinginan menjual rumah untuk ongkos naik haji itu sudah merupakan wanti-wanti atau wasiat dari ayah ataukah sekedar keinginan terlintas begitu saja? Ini penting untuk dipastikan agar kita bisa membedakan status rumah tersebut. Bila memang rumah itu sudah diwasiatkan untuk kepentingan dirinya naik haji meski sudah meninggal dengan cara haji badal, maka rumah itu bukan termasuk harta yang wajib diwariskan kepada anak-anaknya. Jadi rumah itu dijual kepada siapa pun termasuk juga boleh kepada anaknya. Dan uangnya digunakan untuk badal haji sang ayah.

Hanya yang kami tidak paham, kenapa yang mau naik haji sekarang ini malah si ibu? Bukankah Anda katakan bahwa yang ingin naik haji itu si ayah dengan cara menjual rumah? Jadi yang niat mau pergi haji itu siapa? Sebaliknya, bila keinginan itu tidak menjadi sebuah wasiat, maka rumah itu merupakan harta miliknya yang ketika dia meninggal, wajiblah dibagikan kepada ahli berdasarkan hukum waris Islam. Kedua, masalah menjual rumah dengan harga miring. Pada hakikatnya, bila antara penjual dan pembeli tercapai kesepakatan masalah harga, tanpa ada penekanan dan hal lain yang merugikan atau melanggar syariah, maka hal itu tidak bermasalah. Sebab prinsip dasar dari sebuah jual beli itu adalah ’an taradhin, yaitu saling redho dan rela. Jadi bila rumah itu dijual oleh yang empunya dengan separo harga, pada dasarnya tidak ada masalah. Hanya saja masalah nomor satu harus dipastikan terlebih dahulu, sebab menyangkut masalah siapakah pemilik rumah itu sekarang? Milik ayah yang sudah diwasiatkan? Atau sudah menjadi milik ahli waris?

Ketiga, bila rumah itu statusnya telah menjadi milik ahli waris, sebab dianggap bukan merupakan wasiat yang harus dijalankan, maka rumah itu digabungkan dengan semua harta peninggalan ayah lainnya menjadi satu dan diambil nilainya. Lalu dilakukan pembagian warisan sesuai hukum Islam dan rumah itu termasuk yang dibagi-bagi. Yang jelas dalam masalah ini, si ibu punya hak sebesar 1/8 dari total harta yang diwariskan. Sedangkan sisa dibagi kepada anak-anaknya dengan ketentuan anak laki-laki mendapatkan bagian dua kali lebih besar dari bagian anak wanita. Sayangnya, data tentang siapa saja ahli waris yang ada kurang rinci, sehingga kami tidak bisa berspekulasi untuk menjawab nilai masing-masing secara rinci juga. Singkatnya, setelah semua ahli waris mendapatkan bagiannya, maka bila ibu ingin pergi haji, tidak salah kalau mereka merelakan sebagian dari harta yang mereka dapat itu untuk kepergian haji sang ibu.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

MP3 Ceramah

Manajemen waktu

Teknisi

Status Yahoo
CALL CENTER/OFFICE:
021-8575426

Visitor

Hari ini636
Kemarin2704
Minggu ini14212
Bulan ini3340
Keseluruhan319683

Terdapat 40 pengunjung online